Selasa, 13 November 2012

hasil dan pembahasan skripsi EKSPLORASI NEMATODA ENTOMOPATOGEN DI WILAYAH LEMBAH PALU



HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1         Hasil
4.1.1.   Mortalitas larva  S. mauritia  pada uji Laboratorium
Data pengamatan persentase mortalitas larva S.mauritia  pada pengamatan 1 HAS, 2 HAS, 3 HAS, 4 HAS, 5 HAS, dan 6 HAS, pada uji laboratorium disajikan pada Tabel Lampiran 1a, 2a, 3a, 4a, 5a, dan 6a. Sedangkan hasil analisis sidik ragamnya disajikan pada Tabel Lampiran  1c, 2c, 3c, 4c, 5c, dan 6c.
Hasil sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan berbagai konsentrasi nematoda entomopatogen berpengaruh nyata terhadap mortalitas larva  S.mauritia  pada tanaman padi.
Tabel  1.  Rata – rata  (ekor)  mortalitas  larva S. mauritia  1 – 6  hari  setelah aplikasi pada setiap perlakuan  setelah di Tranformasi             ke √x + 0,5


Perlakuan
Hari setelah aplikasi
(10  ekor larva /unit percobaan)
1
2
3
4
5
6
po
P1
P2
P3           P4
0.71 d
2,61 bc
3,88 abc
4,13 ab
5,03 a
0.71 d
3,88 bc
5,03 abc
5,48 ab
6,34 a
0.71 e
4,45 d
7,77 abc
8,20 ab
8,39 a
1,97 e
4,31 d
8,30 abc
8,90 ab
9,18 a
1,97 e
4,89 d
8,75 abc
9,46 ab
9,60 a
1,97 e
4,89 d
9,18 abc
9,59 ab
9,75 a
BNJ  0,05
        
1,88

1,33

1,39

1,84

1,69

1,79

Ket.: Angka yang di ikuti dengan huruf yang sama pada kelom yang sama  
        tidak   berbeda nyata pada taraf  uji  BNJ (0,05)

Gambar  1. Rata-rata mortalitas  larva  S. mauritia pada berberapa  
                   perlaku konsentrasi setelah ditranformasi ke √x + 0,5


 











Hasil uji BNJ  pada taraf 5 %  (0,05)  pada tabel 1 diatas, menunjukan bahwa pada perlakuan berbagai konsentrasi nematoda entomopatogn terhadap pengamatan larva   S. mauritia   terdapat kecenderungan bahwa pada pengamatan 1 HSA dan 2 HSA, perlakuan P2, P3 dan P4 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata, namun berbeda nyata dengan P4 dan sangat nyata dengan Po. Sedang pada pengamatan 3 HSA, 4 HAS, 5 HSA, dan 6 HSA, perlakuan P4 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata dengan perlakuan P2 dan P3 namun berbeda nyata dengan perlakuan P1 dan Po, demikian halnya perlakuan P2 dan P3 menunjukkan perbedaan yang sangat nyata P1 dan Po. Sedangkan perlakuan P1 dan Po menunjukkan perbedaan yang nyata. Grafik 1 memperlihatkan  bahwa tingkat presentase mortalitas larva S.mauritia pada berbagai perlakuan konsentrasi nematoda entamopatogen cenderung naik pada semua perlakuan hingga pengamatan 6 HSA. Tingkat  mortalitas pada     P1 berada pada kisaran 2,61  sampai 4,89 . P2 pada kisaran 3,88 sampai 9,18,  P3 pada kisaran  4,13  sampai 9,59. Sedang P4 pada  kisaran    5,03   sampai  9,75 .

4.1.2. Presentase dan Jumlah Larva yang Menjadi Pupa
Hasil pengamatan pada uji laboratorium menunjukkan bahwa perlakuan berbagai konsentrasi nematoda entomopatogen terhadap presentase dan jumlah larva S.mauritia tanaman padi yang menjadi pupa pada pengamatan 7 HSA untuk setiap unit perlakuan menunjukkan bahwa presentase tertinggi terjadi pada perlakuan control   ( Po ) sebesar  95 %.  Sedang terendah pada perlakuan P4 sebesar  5  %.   Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel 2 dan Grafik 2 di bawah ini.
Tabel 2. Hasil pengamatan jumlah larva yang berhasil menjadi pupa  
              pada 7   HSA pada setiap perlakuan pada uji laboratorium

Perlakuan
Jumlah larva jadi Pupa
Presentase ( % )
Po
38
95
P1
29
72,5
P2
6
15
P3
3
7,5
P4
2
5
4.1.3   Pembahasan.
Berdasarkan hasil pengamatan perlakuan nematoda entamopatogen      Steinernema sp terhadap  larva  S. mauritia  seperti terlihat pada tabel 1 dan Grafik 1 mempelihatkan kecenderungan presentase mortalitas larva S.mauritia meningkat dari pengamatan 1 HSA hingga 6 HSA, pada berbagai perlakuan konsentrasi nematoda entomopatogen Steinernema sp.
   Mortalitas larva S. mauritia   pada perlakuan P4  menunjukan mortalitas yang tinggi di banding dengan perlakuan lainnya. Keadaan tarsebut memberikan gambaran bahwa dengan perlakuan kosentrasi nematoda entomopatogen yang tinggi cenderung menunjukkan mortalitas larva S. mauritia  yang tinggi pula.  Namun demikian pada perlakuan P1, .P2  dan P3  juga menunjukkan mortalitas  larva  S. mauritia pada pengamatan    1 HSA (24 jam  setelah  aplikasi ). Hal tersebut diduga bahwa larva    S. mauritia   pada tanaman padi merupakan salah satu inang yang cocok dari strain  nematode  entomopatogen  Steinernema sp       yang teruji.
Tingginya  kematian  larva  S. mauritia   6 HSA  ( 144 Jam )  karena  nematoda telah berkembang menjadi banyak, sehingga penyebaran bakteri simbionya menjadi lebih cepat pula. Bakteri yang telah mencapai haemocoel serangga akan mempercepat kematian ( Marinaide et.al., 1993  dalam  Subagiya. 2005) lebih lanjut dikemukakan bahwa pada lingkungan yang cocok virulensi nematoda menjadi lebih tinggi sehingga akan meningkatkan kemampuan nematoda untuk menemukan inangnya.  Nematode entomopatogenik yang menemukan inang akan segera berkembang dan memparasitasi inang tersebut (De Deucot et al. 1998 dalam Subagiya. 2005)   lanjut  Fuxa dan Tanada (1987) dalam Subagiya, (2005) mengemukakan bahwa  organisme yang hidup pada inang yang sesuai akan tumbuh dan berkembang dengan baik karena kebutuhan nutrisi dapat dipenuhi dari inang, sehingga kematian serangga inang dapat nerlangsung dengan cepat.
Hasil analisa  pada tabel 2 dan gambar 2 menunjukkan bahwa pengaruh konsentrasi nematoda entomopatogen Steinernema sp,  terhadap j persentase dan jumlah  larva  S. mauritia yang  menjadi pupa berpengaruh nyata, artinya semakin tinggi konsentrasi yang digunakan maka semakin sedikit jumlah larva berhasil menjadi pupa. Persentase jumlah larva menjadi pupa seperti tabel 2 tersebut yaitu  Po sebesar  95 %, P1 sebesar 72.5 %, P2  sebesar 15 %, P3 sebesar 7,5 %, dan P4 sebesar  5 %.  Pengamatan menunjukan pupa yang terbentuk  dari percobaan yang diaplikasikan dengan nematoda entomopatogen Steinernama sp sebagian tidak terbentuk normal  dan semua pupa yang terbentuk pada perlakuan P2, P3 dan P4 tidak berhasil menjadi  imago, sedangkan pada perlakuan P1 hanya sekitar    37,93% pupa yang terbentuk berhasil menjadi imago, ini terjadi mungkin sebelum larva S.mauritia berhasil menjadi pupa,nematode telah berhasil melakukan penetrasi kedalam larva tersebut namun belum dapat mematikannya. Dan pada perlakuan  P0, semua pupa yang terbentuk berhasil menjadi imago (Lampiran 7a)
   Menurut  Trisawa  (2007) kemampuan nematoda menghasilkan enzim Proteolitik juga akan membantu mendegradasi susunan kutikula. Jika penetrasi berhasil maka faktor kerjasama nematode dengan bakteri simbion akan menentukan patogenisitas terhadap inang. Nematoda dapat membunuh inang tanpa bakteri simbion tetapi nematoda tersebut tidak dapat berproduksi, sebaliknya bakteri tidak dapat  masuk kedalam hemocoel serangga tanpa adanya nematoda.
 Hasil penelitian ini  sejalan  dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Uhan (2006) terhadap larva S.litura yang  menyatakan bahwa Perlakuan Steinernema carpocapsae  pada kepadatan  populasi  400 dan 800 Ji.ml-l dapat menyebabkan kematian larva S.litura sebesar  87,50 % dan 95,50 %, efikasinya  setara dengan penggunaan insektisida  Metoksifenosida  konsentrasi  2 ml. l. dapat mengakibatkan mortalitas larva S.litura sebesar 97,50 % pada 72  jam setelah aplikasi.   Dan agak berbeda dengan penelitian yang dilaksanakan oleh Subagiya (2005), yang  menyimpulkan estimasi konsentrasi S.carpocapsae yang mampu mematikan  50%  populasi  S.litura, adalah  4979,47  larva /ml.  ini  merupakan konsentrasi  yang sangat tinggi  bila di banding  hasil pada penelitian  ini.

V.   KESIMPULAN  DAN SARAN
5.1       Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa :
- Semakin tinggi konsentrasi nematoda entomopatogen steinernema sp yang  digunakan maka semakin tinggi pula persentase mortalitas larva S. mauritia
- Perlakuan P2 dengan konsentrasi nematoda 1000 Jl / 2 ml air merupakan   konsentrasi yang telah dapat mematikan 84,16 % Larva S.mauritia  dalam waktu  6 hari setelah aplikasi  efektif dan efisien untuk digunakan.
5.2.        Saran
- Dengan adanya pengaruh yang signifikan dalam penggunaan
   nematoda entomopatogen untuk pengendalian larva S. mauritia  khususnya pada tanaman padi  seperti dalam hasil penelitian maka akan memberikan pengharapan akan pengendalian alternatif  tanpa pestisida. Penggunaan bioinsektisida semacam nematoda entomopatogen merupakan pilihan yang mungkin dapat diberikan kepada petani dimasa mendatang ditengah kegalauan akan bahaya yang selalu mengintai akibat penggunaan pestisida akhir-akhir  ini.
           -Masih perlu dilakukan penelitian lebih lanjut pemanfaatan   nematoda entomopatogen Stenernema sp dalam pengendalian OPT di lapangan, baik pada tanaman padi, palawija, maupun pada
tanaman sayuran.

di koment ya

0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Posting Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???