Kamis, 24 Januari 2013

KERUSAKAN PADA TANAMAN YANG DISEBABKAN OLEH FAKTOR ABIOTIK IKLIM

Lingkungan abiotik secara langsung berperan sebagai faktor tempat tumbuh hutan atau tanaman penyusun hutan. Kelangkaan atau sebaliknya ketersediaan faktor abiotik yang berlebihan dapat menyebabkan penyimpangan atau kerusakan pertumbuhan tanaman. Penyimpangan ini dapat terjadi secara alami karena musim atau bencana alam dan kesalahan pengelolaan serta budidaya hutan. Faktor-faktor abiotik yang mampu menimbulkan gangguan pada tanaman menyebabkan kerusakan yang dikenal sebagai penyakit abiotik atau non-infectious disease. Penyakit abiotik merupakan suatu penyakit tanaman yang tidak disebabkan oleh patogen atau makhluk hidup ( Ronco, 1975 ).
A.  IKLIM
            Hutan hujan tropika adalah suatu tipe vegetasi yang sangat kaya dengan spesies, menempati daerah tropika atau dekat dengan daerah tropika dan mendapat curah hujan melimpah, yaitu antara 2.000-4.000 mm tiap tahun. Komponen penyusun hutan tropika berupa pohon-pohon dengan ketinggian paling tidak 30 meter ( Baur, 1966 ). Banyak pohon dari komunitas tersebut berasosiasi dengan liana, epifit, saprofit, dan parasit ( Ewusie, 1980 ). Warsopranoto (1974) menerangkan bahwa iklim, tanah dan terutama karakteristik vegetasi menentukan kekhususan formasi hutan hujan tropika dan diferensiasinya menjadi tipe-tipe hutan yang lebih spesifik.
Karakteristik iklim tersebut menyebabkan proses penguraian dan mineralisasi berjalan dengan cepat. Curah hujan yang tinggi mengakibatkan proses pencucian hara juga tinggi, sehingga untuk mempertahankan eksistensinya spesies-spesies penyusun hutan hujan tropika mengandalkan mekanisme siklus unsur hara tertutup degan menggunakan bantuan organisme mikro dan mikoriza sebagai jembatan, sehingga kebocoran hara keluar dari sistem diperkecil                ( Richards, 1957 ). Siklus hara tertutup yang terjadi di dalam hutan hujan tropika sangat rentan terhadap gangguan yang berasal dari luar. Bila pengelolaan hutan menggunakan suatu sistem silvikultur, maka kondisi biofisik yang digambarkan tersebut perlu mendapat perhatian serius agar kelestarian produksi dan jasa lingkungan dapat dipertahankan ( Marsono, 1991 ).
1.        Suhu
Kerusakan yang terjadi bila suhu tempat tumbuh meningkat di atas batas toleransi dapat berupa mati kering baik sebagian atau seluruh bagian tanaman. Kematian jaringan terjadi karena hilangnya air dari sel-sel penyusun jaringan, perubahan sifat kimiawi koloid plasma sel atau kerusakan proses metabolisme      ( Smith, 1970 ).
2.        Kelembaban
Ketersediaan air yang cukup sangat diperlukan untuk pertumbuhan tanaman penyusun hutan. Disamping berfungsi sebagai komponen penyusun jringan tanaman yang segar dan mempertahankan tekanan turgor sel, air juga berperan dalam reaksi-reaksi metabolik baik sebagai bahan dasar maupun sebagai pencipta lingungan aktif bagi katalisator reaksi, serta sebagai pelarut bahan-bahan dalam transpor bahan anorganik dan bahan organik ( Smith, 1970 ).
Gejala kerusakan akibat kekeringan pada umumnya dapat berupa kelayuan yaitu kehilangan tekanan turgor sel-sel jaringan tumbuhan. Kelayuan dan pengguran daun merupakan gejala awal kekurangan air pada tumbuhan. Bila kekurangan air berlangsung terus maka dehidrasi akan meluas pada seluruh bagian tumbuhan. Mati pucuk merupakan gejala kerusakan yang dapat terjadi pada tumbuhan tua akibat kekeringan. Kerusakan lain dapat berupa perubahan warna daun, yaitu menjadi coklat pada bagian tepi daun pada jenis-jenis daun lebar dan seluruh bagian daun menjadi coklat pada jenis-jenis konifer                    ( Henkel, 1964 ).
Mekanisme kerusakan akibat kekeringan yang paling umum berupa dehidrasi, dan selanjutnya akan mempengaruhi metabolisme dan struktur mikroskopik protoplasma ( Henkel, 1964 ). Dehidrasi biasanya terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu sehingga terjadi penguraian komponen air dalam protein dan pada umumnya juga disertai pembentukan gas amoniak dalam jumlah yang meracun ( Smith, 1970 ).
3.         Komponen penyebab badai
Angin, hujan, salju dan petir dapat menyebabkan kerusakan hutan secara dramatis. Angin mempunyai berbagai macam efek terhadap kesehatan pohon. Angin pada kecepatan tertentu diperlukan agar batang pohon menjadi lebih kuat. Angin yang bertiup terlalu kencang dapat menyebabkan tercabutnya pohon dari tempat tumbuhnya, roboh, patahnya batang pokok serta kerusakan tajuk ( Tainter dan Baker, 1996 ).
4.        Perubahan iklim dan asosiasi cekaman
Iklim merupakan rata-rata kondisi cuaca pada lokasi tertentu. Iklim normal pada umumnya  dinyatakan berdasarkan suhu dan curah hujan rata-rata selama 30 tahun, sedangkan cuaca meliputi berbagai macam ukuran faktor meteorologi yang dapat diramalkan dari kondisi atmosfer saat itu, termasuk diantaranya suhu dan curah hujan.
Tenaga dan radiasi matahari sngat menentukan kondisi iklim. Faktor-faktor alamiah yang mempengaruhi jumlah radiasi untuk sampai ke permukaan  bumi akan ikut mempengaruhi iklim. Beberapa faktor ini adalah letusan gunung berapi, interaksi antara atmosfer dengan lautan serta campur tangan manusia. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa kisaran total variasi rata-rata suhu global mencapa 10ºC (50ºF) dalam 100.000 tahun terakhir. Data ini tampaknya stabil, tetapi perubahan suhu dari kisaran beberapa derajad sampai suhu yang ekstrim dalam jangka pendek akan berpengaruh cukup signifikan terhadap kesehatan hutan ( Hepting, 1963 ).
Untuk jangka pendek dari tahun ke tahun variasi curah hujan yang ekstrim merupakan cekaman bagi pohon dan dapat menyebabkan kematian. Secara umum akibat dari adanya cekaman dikenali sebagai pengurangan pertumbuhan. Suhu yang ekstrim merupakan penyebab kerusakan serius yang sangat potensial. Suhu dibawah normal akan memendekkan masa pertumbuhan. Kondisi yang mencapai titik beku, misalnya frost akan mempengaruhi reproduksi, merusak pembuangan serta membuat jaringan lain menjadi mati. Varisai ekstrim pada curah hujan maupun suhu yang tidak menyebabkan kematian pohon secara langsung akan mengurangi vigor pohon sehingga lebih rentan terhadap serangan serangga hama dan penyakit ( Curtis dkk., 1977 ).
Perubahan iklim tidak saja berpengaruh terhadap hasil panen, tetapi berpengaruh juga terhadap organisme pengganggu tanaman, yang selanjutnya akan mempengaruhi tanaman yang diserang. Salah satunya adalah hubungan antara pemanasan global dengan peningkatan konsentrasi karbondioksida di atmosfe. Kandungan karbon dioksida telah meningkat dari 275 ppmv di tahun 1850-an, menjadi 315 ppmv d tahun 1958, dan 343 ppmv di tahun 1984                 ( Coakly, 1988 ).
Pohon-pohon beradaptasi terhadap perubahan tersebut dalam waktu relatif lama karena waktu generasinya yang panjang, sedangkan serangga hama dan penyakit mmpu beradaptasi dengan cepat karena waktu generasinya pendek, yaitu beberapa generasi setiap tahun. Organisme pengganggu ini dengan demikian dapat merupakan ancaman yang sangat potensial terhadap kesehatan tanaman       ( Little dkk., 1958 ).

di koment ya

0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Poskan Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???