Selasa, 04 Juni 2013

Peran satwa dalam proses reklamasi lahan tambang

Peran satwa dalam proses reklamasi lahan bekas tambang membantu mempercepat proses suksesi sehingga diperlukana penanaman jenis tanaman buah yang berfungsi sebagai fasilitator munculnya burung. Jika burung telah masuk ke dalam habitat, hal ini akan lebih mempercepat regenerasi hutan. Dimana burung akan memakan buah-buahan tersebut dan melepaskan kotoran ke lantai hutan. Kotoran burung akan mengundang mikroba untuk mempercepat proses dekomposer di tanah. Disamping itu burung juga akan menjadi pollinator, dimana melalui kotorannya biji akan keluar dan mudah untuk berkecambah. Spesies yang di tanam haruslah simbiosis mutualisme agar proses suksesi berjalan dengan cepat. Satwa juga berperan penting dalam kegiatan penyerbukan dan penyebaran benih tanaman dalam suatu ekosistem.
Ada beberapa jenis pohon yang dapat mengundang burung ke dalam suatu ekosistem yaitu pohon beringin (Ficus benjamina), salam (Eugenia polyanta), melastoma (Melastoma malabathricum), macaranga (Macaranga mappa), mallotus (Mallotus Spp) dan trema. Pohon-pohon ini mempunyai buah yang di sukai oleh burung sebagai sumber makanan. Sedangkan untuk habitat burung biasanya adalah pohon-pohon bercabang sejajar seperti pulai (Alstonia scholaris).
Pohon yang disukai burung biasanya mempunyai karakter daun lunak yang cepat terdekomposisi dan mengandung nitrogen yang tinggi. Pada akhirnya satwa sangat berperan dalam pembentukan struktur hutan, dimana struktur hutan sangat berkaitan erat dengan komposisi jenisnya.
Satwa dengan berbagai macam ukuran adalah bagian yang sangat diperlukan dari sebuah ekosistem hutan. Sebagai factor biotic mereka mempunyai pengaruh yang nyata untuk komposisi komunitas hutan dan berlangsungnya siklus ekosistem. Satwa, dikatakan sangat dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu lingkungan fisik dan oleh tumbuhan dimana tempat mereka berasosiasi.
Tumbuhan menyediakan tempat berlindung dan makanan bagi satwa. Makanan yang dihasilkan dari tumbuhan hijau hasil dari hubungan erat antara tumbuhan-satwa; mereka membentuk rantai makanan. Masing-masing rantai makanan terdiri dari pemakan tumbuhan (herbivore), hewan predator dan parasit makan pada phytopages dan ada juga binatang memakan bangkai hewan dan kotoran. Siklus rantai makanan tumbuhan – satwadilengkapi oleh pengurai (tumbuhan-hewan) menguraikan mineral sampah tumbuhan dan kotoran satwa (Rambey, 2010).
Kombinasi antara fauna yang tinggal di permukaan (epigeik) dan dalam profil tanah (endogeik), semakin memperkaya diversitas fauna tanah, dan semuanya dipengaruhi oleh arsitek vegetasi dan serasah penutup tanah. Perubahan kondisi lingkungan yang disebabkan oleh perubahan penggunaan lahan menyebabkan perubahan diversitas fauna tanah. Aktivitas dan diversitas biota tanah tergantung faktor biotik dan abiotik (Dewi, 2001).
Fauna tanah, kehidupannya sangat tergantung pada pasokan bahan organik ke dalam tanah. Bahan organik digunakannya sebagai sumber energi dan karbon dalam berbagai aktivitas kehidupannya. Sumber bahan organik tanah yang terutama berasal dari tanaman. Hutan alam merupakan sumber pemasok bahan organik terbesar ke dalam tanah bila dibandingkan dengan jenis penggunaan yang lain. Oleh karena itu penebangan hutan akan mempengaruhi kemelimpahan maupun diversitas fauna tanah. Tipe penggunaan lahan sangat mempengaruhi komposisi dan kelimpahan komunitas makrofauna tanah. Pembukaan hutan menjadi lahan pertanian atau jenis penggunaan yang lain, menyebabkan hilang dan berkurangnya biodiversitas, baik di atas tanah maupun dalam tanah. Oleh karena unsur penyusun tubuh organisme yang utama adalah C, maka penurunan biodiversitas dapat juga dicirikan oleh menurunnya nilai biomassa C. Tebang bakar menyebabkan hilangnya karbon dalam bentuk CO2 ke atmosfer dalam jumlah yang sangat besar. Dilaporkan bahwa pembukaan hutan dengan cara ini, untuk penggunaan lahan pertanian, dapat menurunkan biomassa karbon total sampai dengan 66% dari semula. Terbakarnya hutan menyebabkan hilangnya bahan organik sehingga mepengaruhi fungsi biologi, karena terganggunya proses dekomposisi, pelepasan karbon, agregasi tanah, dan perubahan ukuran dan susunan komunitas biologi. Pembakaran hutan juga menyebabkan perubahan iklim mikro sehingga mempenga-
Soil decomposer (Collembola dan Acarina) mempunyai fungsi ekologi yang dominan. Dari hasil penelitian tersebut secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa diversitas fauna tanah cenderung lebih tinggi pada ladang jagung polikultur dan meningkat sejalan dengan meningkatnya umur tanaman. Perbedaan komunitas fauna tanah diduga berhubungan dengan faktor lingkungan (Dewi, 2001). Dengan demikian suatu langkah rehabilitasi lahan tegradasi adalah dengan penanaman tanaman yang polikultur dan bukan monokultur.
Oleh : Rahmat Hidayat

di koment ya

1 komentar:

  1. Terimakasih atas informasinya

    irhamabdulazis21.student.ipb.ac.id

    BalasHapus

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???