Kamis, 18 Oktober 2012

proposal Identifikasi Jenis Flora Pohon Alami Daya Adaptasi Tinggi Pada Areal Lahan Kritis Wilayah DAS Kering (ID MINI DAS 183429) Kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA) Palu



I.                   PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hutan merupakan sumberdaya alam hayati yang terdiri dari sumberdaya alam nabati (tumbuh-tumbuhan) dan sumberdaya alam hewani (satwa) yang bersama-sama dengan unsur nonhayati disekitarnya secara keseluruhan membentuk sumber daya alam hutan yang mempunyai kedudukan serta peran yang penting bagi kehidupan manusia sehingga perlu dikelola dan dimanfaatkan secara seimbang, selaras dan serasi untuk kesejahteraan (Arif, 2001).
TAHURA (Taman Hutan Raya) Sulawesi Tengah ditetapkan oleh menteri kehutanan dan perkebunan dengan surat keputusan nomor 24/kpts-II/1999 tanggal 29 januari 1999 dengan luas 7.128 Ha yang terletak pada dua wilayah administrasi pemerintahan yaitu Kabupaten Sigi seluas 4.696,27 Ha dan Kota Palu seluas 2.431,73 Ha.
TAHURA (Taman Hutan Raya) Sulteng yang berada pada kawasan Paneki-Poboya merupakan bagian dari kegiatan Konservasi Sumber Daya Alam Hayati Kawasan TAHURA (Taman Hutan Raya) dengan luas 7.128 Ha memiliki potensi yang cukup tinggi diantaranya terdapat jenis fauna.
Sub DAS Sopu merupakan salah satu daerah aliran sungai yang berada di dalam Kawasan Taman Nasional Lore Lindu. Saat ini kondisi tanah dan airnya terlihat mengalami penurunan kualitas lahan yang di sebabkan oleh adanya pengelolaan lahan oleh masyarakat yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu yakni Masyarakat Dongi-Dongi. Dengan adanya pengelolaan lahan tersebut mengakibatkan luas hutan efektif menjadi semakin berkurang, produktifitas lahan menurun, fungsi Hidrologi DAS tidak berfungsi dengan baik, seperti terjadi banjir pada musim penghujan serta terjadinya erosi sehingga dapat menyebabkan Sub DAS tersebut menjadi Kritis.
 Dengan melihat kondisi Sub DAS Sopu yang cukup luas serta letaknya yang berada di wilayah perambah dongi-dongi di didalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu, maka akan lebih mudah mengetahui tingkat kekritisan Sub DAS Sopu dengan menggunakan Teknologi Penginderaan Jauh dalam bentuk Sistem Informasi Geografi (SIG).
Sistem Informasi Geografi (SIG) merupakan suatu sistem  yang di gunakan untuk memetakan kondisi dan peristiwa yang terjadi di muka bumi. SIG memiliki kapabilitas menghubungkan berbagai lapisan data di suatu titik yang sama pada tempat tertentu, mengkombinasikan, menganalisis data tersebut dan memetakan hasilnya. Sistem ini terdiri dari perangkat keras (Hardware), perangkat lunak (Software) dan pengguna. Aplikasi SIG sangat bermanfaat untuk mengolah data serta mengetahui tingkat kekritisan lahan pada Sub DAS Sopu.
1.2 Rumusan Masalah
Adanya lahan kritis pada Daerah Aliran Sungai yang sangat luas tidak terlepas dari ulah manusia sendiri, kelalaian di masa yang lalu dan keterbatasan teknologi serta tekanan penduduk atas lahan sangat tinggi, sehingga pemanfaatan lahan menjadi kurang terarah yang menyebabkan terdegradasinya Daerah Aliran Sungai yang berfungsi sebagai penyuplai air bagi keperluan mahluk hidup di bagian hilir atau sekitarnya.
Sub DAS Sopu merupakan Daerah Aliran Sungai yang berada di bagian hulu, yang secara langsung merupakan pengatur tata air, serta seharusnya memiliki kondisi yang stabil dan mampu berproduksi secara optimal sesuai dengan kemapuan lahannya.
            Melihat fungsi Sub DAS Sopu yang begitu besar, maka diperlukan adanya penelitian mengenai tingkat kekritisan lahan pada Sub DAS Sopu menggunakan Sistem Informasi Geografi (SIG), yang di aplikasikan untuk mengetahui tingkat kekritisan lahan pada Sub DAS Sopu.
1.3 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui tingkat kekritisan lahan pada Sub DAS Sopu, dengan menggunakan SIG yang menghasilkan peta tingkat kekritisan lahan khususnya sekitar wilayah Dongi-dongi yang berada dalam kawasan Taman Nasional Lore Lindu.
Kegunaan dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam penelitian lebih lanjut mengenai kekritisan lahan serta menentukan tindakan dalam prioritas penanganan kerusakan wilayah Sub DAS Sopu.



II.                TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Daerah Aliran Sungai (DAS)
            Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah daerah tertentu  yang bentuk dan sifat alamnya sedemikian rupa, sehingga merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungai lainnya yang melalui daerah tersebut, dalam fungsinya untuk menampung air yang berasal dari curah hujan dan sumber-sumber air lainnya, penyimpanannya serta pengalirannya dihimpun dan ditata berdasarkan hukum-hukum alam sekelilingnya demi keseimbangan daerah tersebut (Departemen kehutanan, 1993).
            Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah salah satu daerah yang dibatasi oleh punggung bukit, yang menerima, menampung dan mengalirkan air yang jatuh diatasnya ke sungai utama dan selanjutnya ke muara sungai, danau atau tempat-tempat tertentu (Departemen Kehutanan, 1998).
            Daerah Aliran Sungai (DAS) mempunyai fungsi sebagai daerah tangkapan air, pengaturan tata air yang meliputi pengembangan, proses penyimpanan, dan penyebaran, sebagai kawasan penyangga yang dapat mencegah terjadinya banjir dan erosi, serta sebagai objek penelitian yang berguna untuk pengembangan ilmu pengetahuan (Helmi, 2003).
2.2 DAS Sebagai Suatu Ekosistem
            Dalam mempelajari ekosistem Daerah Aliran Sungai, keluaran tersebut dibagi menjadi daerah Hulu, Tengah dan Hilir. Daerah Hulu DAS dialirkan oleh hal-hal sebagai berikut : merupakan daerah konservasi, mempunyai kerapatan drainase yang lebih tinggi, merupakan daerah kemiringan lereng lebih besar (lebih dari 15 %), merupakan daerah banjir, pengaturan pemakaian air ditentukan oleh drainase, sementara daerah hilir dicirikan sebagai berikut : merupakan daerahpemanfaatan, kerapatan drainase lebih kecil, merupakan daerah kemiringan lereng kecil sampai dengan sangat kecil (kurang dari 8%), pada beberapa tempat merupakan daerah banjir (genangan), pengaturan pemakaian air ditentukan oleh bangunanirigasi. Daerah Aliran Sungai (DAS) bagian tengah merupakan daerah transisi dari kedua keadaan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang berbeda tersebut (Asdak, 1995).
            Gangguan terhadap suatu system Daerah Aliran Sungai (DAS) biasanya bermacam-macam, teritama berasal dari penghuni Das itu sendiri yaitu manusia. Apabila fungsi daerah suatu DAS terganggu, maka system Hidrologi akan terganggu, penangkapan hujan, resapan dan penyimpanan airnya menjadi sangat berkurang, atau sistem penyalurannya menjadi sangat boros kejadian tersebut akan menyebabkan melimpahnya air pada musim hujan dan sebaliknya sangat minimnya air pada musim kemarau. Hal ini membuat fluktuasi debit sungai antara musim hujan dan musim kemarau berbeda tajam. Jadi. Jika fluktuasi debit sungai sangat tajam, berarti bahwa fungsi DAS tidak bekerja dengan baik, apabila itu terjadi bahwa kualitas DAS tersebut rendah (Suripin, 2002).
            Oleh karena itu DAS merupakan suatu ekosistem, maka tindakan atau pengaruh terhadap unsure atau suatu bagian dari wilayah DAS akan mempengaruhi kumpulan unsure atau wilayah DAS secara keseluruhan.
2.3 Lahan Kritis
            Mengacu pada pemahaman Daerah Aliran Sungai (DAS) yang baik dan dikelola dengan baik, maka mudah dipahami bahwa penertian DAS kritis adalah Daerah yang telah mengalami penurunan produktifitas dan penurunan fungsi (Departemen Kehutanan, 1992).
            Lahan kritis adalah lahan yang keadaan fisiknya tidak dapat berfungsi secara baik sesuai dengan media peruntukannya sebagai media produksi dan tata air (Departemen Kehutanan, 1993).
            Menurut Wirakusumah (2003), kehilangan unsur hara tersebut sesungguhnya akan menurunkan produktifitas lahan. Bila suatu lahan produktifitasnya telah rendah maka itu akan ditinggalkan dan selanjutnya perlahan-lahan berubah menjadi semak belukar, lahan seperti ini tidak produktif. Lahan yang tidak produktif dan telah mengalami kerusakan fisik, kimia dan biologis untuk selanjutnya merupakan istilah yang digunakan untuk lahan kritis.
            Selanjutnya dalam Hardjowigeno (2005), tanah kritis adalah tanah yang telah mengalami kerusakan dan kehilangan fungsi hidrologisnya dan fungsi ekonominya. Dengan perkataan lain, tanah tersebut tidak lagi mampu mengatur persediaan air serta tidak mampu berproduksi. Pada umumnya, daerah-daerah tersebut mengalami kerusakan akibat penggunaan tanah tanpa memperhatikan usaha-usaha pengawetan tanah dan air.


2.4 Faktor Penyebab Lahan Kritis
2.4.1 Curah Hujan
            Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor dan erosi (Sutedjo dan Kartasapoetra, 2002). Air hujan yang menjadi air limpasan permukaan adalah unsur utama penyebab terjadinya erosi. Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan yang sama namun dalam waktu yang lebih lama (>1 jam). Intensitas hujan menentukan besar kecilnya erosi. Curah hujan tahunan >2000 mm terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpeluang besar menimbulkan erosi, apalagi di wilayah pegunungan yang lahannya didominasi oleh berbagai jenis tanah.
Faktor curah hujan adalah besarnya erosivitas (indeks erosi hujan) tertentu, yang berhubungan dengan jumlah dan intensitas hujan. Intensitas hujan menunjukkan banyaknya curah hujan persatuan waktu yang biasanya dinyatakan dalam mm/jam atau cm/jam. Indeks erosi hujan atau ukuran erosivitas. Untuk mendapatkan data tentang intensitas hujan (I) dan intensitas hujan selama 30 menit maksimum harus digunakan penakaran hujan otomatis (ombromotor) dimana banyaknya dan penambahan hujan setiap saat dicatat secara otomatis dalam kertas pias (ombograf)(Rahim, 2000).



Tabel 1. Klasifikasi Intensitas Curah Hujan

Kelas Curah Hujan
Curah hujan (mm/tahun)
1
3000 – 3500 mm
2
3500 – 4000 mm
3
4000 – 4500 mm
4
4500 – 5000 mm
5
5000 – 6000 mm
Sumber : Asdak 1995
2.4.2 Faktor Topografi
            Topografi adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan objek lain seperti planet, satelit alami (bulan dan sebagainya), dan asteroid. Dalam pengertian yang lebih luas, topografi tidak hanya mengenai bentuk permukaan saja, tetapi juga vegetasi dan pengaruh manusia terhadap lingkungan, dan bahkan kebudayaan lokal. Topografi umumnya menyuguhkan relief permukaan, model tiga dimensi, dan identifikasi jenis lahan. Penggunaan kata topografi dimulai sejak zaman Yunani kuno dan berlanjut hingga Romawi kuno, sebagai detail dari suatu tempat. Kata itu datang dari kata Yunani, topos yang berarti tempat, dan graphia yang berarti tulisan. Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian. Mengidentifikasi jenis lahan juga termasuk bagian dari objek studi ini. Studi topografi dilakukan dengan berbagai alasan, diantaranya perencanaan militer dan eksplorasi geologi. Untuk kebutuhkan konstruksi sipil, pekerjaan umum, dan proyek reklamasi membutuhkan studi topografi yang lebih detail (Rahim, 2000).
Kemiringan lereng sangat berpengaruh terhadap aliran permukaan dimana makin curam lerengnya makin besar jumlah dan aliran permukaan yang terjadi, selain itu dengan makin curamnya lereng maka jumlah butir-butir tanah yang terpecik keatas oleh tumbukan butir hujan makin besar dan banyaklereng permukaan tanah yang tidak selamanya memiliki keseragaman, penelitian tentang pengaruh keseragaman lereng terhadap erosi dan aliran permukaan akan lebih kecil pada lereng-lereng yang tidak seragam (Marwah, 2001).
Kemiringan dan panjang lereng adalah dua faktor penting untuk terjadinya erosi karena faktor-faktor tersebut menentukan besarnya kecepatan air larian. Kecepatan air larian yang besar umumnya ditentukan oleh kemiringan lereng yang tidak terputusdan panjang serta terkonsentrasi pada saluran-saluran sempit yang mempunyai potensi besar untuk terjadinya alur dan erosi parit. Kedudukan lereng juga menetukan besar-kecilnya erosi. Lereng bagian bawah lebih mudah tererosi daripada lereng bagian atas karena momentum air larian lebih besar dan kecepatan air larian lebih terkonsentrasi ketika mencapai lereng bagian bawah (Asdak, 1995).





Tabel 2. Faktor Kelas Lereng
Kelas lereng
Lereng
1
0  – 8 % (datar)
2
8 – 15 % (bergelombang)
3
15 – 30 % (miring)
4
30 – 45 % (agak curam)
5
45 – 65 % (curam)
6
> 65 % (sangat curam)
Sumber : Asdak 1995
2.4.3        Faktor Tutupan Lahan
Menurut Mahfuds (2001), Kondisi tutupan lahan dinilai berdasarkan prosentase tutupan tajuk pohon dan diklasifikasikan menjadi lima kelas. Masing-masing kelas tutupan lahan selanjutnya diberi skor untuk keperluan penentuan lahan kritis. Dalam penentuan kekritisan lahan, parameter liputan lahan mempunyai bobot 20%, sehingga nilai skor untuk parameter ini merupakan perkalian antara skor dengan bobotnya (skor x 20). Klasifikasi tutupan lahan dan skor untuk masing-masing kelas ditunjukkan pada tabel berikut :
Tabel 3. Faktor Penutupan Lahan
Kelas Penutupan Lahan
Tipe Penutupan Lahan
1
Hutan
2
Kebun
3
Kebun Teh
4
Sawah
5
Builtup
6
Ladang
7
Alang-alang/rumput
8
Semak
9
Lahan terbuka
Sumber : Asdak 1995
2.4.4        Faktor Jenis Tanah
Pengolahan data jenis tanah adalah dengan pendekatan terhadap kepekaan jenis tanah tertentu terhadap tingkat laju erosi. Tanah memiliki struktur dan porositas yang mampu menahan laju aliran permukaan (surface run off) yang berbeda antara jenis tanah satu dengan lainnya. Semakin kuat jenis tanah menahan laju aliran permukaan maka kepekaannya semakin rendah, sebaliknya semakin rendah jenis tanah akan tingkat laju erosi maka kepekaannya semakin tinggi. Berikut adalah klasifikasi jenis tanah berdasarkan kepekaan terhadap erosi(Sitorus, 2004).
Kelas tanah
Jenis tanah
1
Latosol coklat kemerahan
2
Asosiasi Latosol coklat kemerahan dan latosol coklat
3
Asosiasi latosol dan regosol kelabu
4
Andosol coklat kekuningan
5
Asosiasi andosol coklat dan regosol coklat
6
Komplek regosol kelabu dan litosol
Sumber : Asdak 1995
2.5 Rehabilitasi Lahan Kritis Daerah Aliran Sungai
            Upaya dalam mempertahankan untuk meningkatkan produktifitas lahan kritis pada daerah lading, hutan pemukiman dan dan Daerah Aliran Sungai (DAS), hendaknya didekati dengan penerapan sistem konservasi melalui pola tanam dan upaya meningkatkan kesuburan tanah dengan cara memberikan bahan organic ( Muliadi, 1992).
            Reboisasi atau penghijauan adalah salah satu bentuk program berdimensi lingkungan yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya lingkungan (lahan) yang dinilai kritis dengan melindungi permukaan tanah dan vegetasi atau serasah vegetasi sehingga kerusakan tanah akibat pengikisan dan penghanyutan dapat dikendalikan (Sutedjo dan Kartasapoetra, 2005).
2.6 Sistem Informasi Geografis (SIG)
            Menurut Prahasta (2001), Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah alat dengan sistem computer yang digunakan untuk memetakan kondisi dan peristiwa yang terjadi dimuka bumi. Teknologi SIG ini dapat mengintegrasikan sistem operasi data base seperti query dan analisis statistik dengan berbagai keuntungan analisis geografis yang ditawarkan dalam bentuk peta. Dengan kemapuan pada sistem pemetaan (informasi pemetaan) yang membedakannya dengan sistem informasi yang lainnya seperti data base, maka SIG banyak digunakan oleh masyarakat, pengusaha dan berbagai instansi untuk menjelaskan berbagai peristiwa, memprediksi hasil dan perencanaan strategis. SIG memiliki capabilitas menghubungkan berbagai lapisan data pada titik yang sama pada tempat tertentu, mengkombinasikan, menganalisis data tersebut, dan memetakan hasilnya. Teknologi ini juga dapat mendeskripsikan karakteristik objek pada suatu peta dan menentukan posisi koordinatnya, melakukan query dan analisis spasial serta mampu menyimpan, mengelola, mengupdate data secara terorganisir dan efisien.
            Secara prinsip tujuan pemrosesan data pada Teknologi SIG yaitu mempresentasekan :
Ø  Input
Ø  Pengelolaan
Ø  Manipulasi
Ø  Queri
Ø  Analisis
Ø  Visualisasi
Pengertian Sistem Informasi Geografi (SIG) atau Geographic Information System (GIS) adalah suatu sistem informasi yang dirancang untuk bekerja dengan data yang bereferensi spasial atau berkoordinat geografi atau dengan kata lain suatu SIG adalah suatu sistem basis data dengan kemampuan khusus untuk menangani data yang bereferensi keruangan (spasial) bersamaan dengan seperangkat operasi kerja (Prahasta, 2001).
Menurut Puntodewo (2003) Sistem Informasi geografi adalah suatu sistem Informasi yang dapat memadukan antara data grafis (spasial) dengan data teks (atribut) objek yang dihubungkan secara geogrfis di bumi (georeference). Disamping itu, SIG juga dapat menggabungkan data, mengatur data dan melakukan analisis data yang akhirnya akan menghasilkan keluaran yang dapat dijadikan acuan dalam pengambilan keputusan pada masalah yang berhubungan dengan geografi.
Menurut Hamzari (2001), Di dalam SIG  terdapat data spasial. Dimana data spasial tersebut terdiri dari dua bagian penting yang membuatnya berbeda dari data lain, yaitu informasi lokasi dan informasi atribut. Kedua informasi tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
·         Informasi Lokasi atau Informasi Spasial. Contohnya adalah informasi lintang dan bujur. Contoh lain dari informasi spasial yang bisa digunakan untuk mengidentifikasikan lokasi misalnya adalah kode pos.
·         Informasi Atribut  (Deskriptif) atau Informasi Non Spasial. Contohnya Jenis Vegetasi, Populasi, Pendapatan per tahun, dan lain-lain.


III.             MATERI DAN METODE PENELITIAN
3.1 Materi
3.1.1 Waktu dan Tempat
            Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, yakni pada bulan Oktober sampai Desember 2011. Lokasi penelitian di Dusun Watutela, Kelurahan Tondo Kecamatan Palu Timur Kota Palu Kawasan Taman Hutan Raya (TAHURA).
3.1.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
a.       Hardware : Personal Komputer
b.      Software  : Arcview 3,3.
c.       Global Posision Sistem (GPS)
d.      Kamera Digital
Bahan yang digunakan terdiri dari :
a.       Citra Landsat 7 TM
b.      Peta RBI Taman Nasional Lore Lindu
c.       Data Curah Hujan
d.      Data Topografi (Kelerengan)
e.       Data Jenis Tanah
f.       Data Tutupan Lahan
3.2 Metode Penelitian
3.2.1 Pengumpulan Data
            Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan data primer dan data sekunder, data primer merupakan data yang berhubungan erat dengan penelitian ini, sedangkan data sekunder merupakan data penunjang dari penelitian ini.
            Data primer, data ini diambil dari Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL) selaku penyedia data lokasi penelitian seperti Data Topografi, Data Panutupan Lahan, Data Curah Hujan  dan Data Jenis Tanah. Badan Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Palu-Poso (BPDAS Palu-Poso) sebagai penyedia data Sub DAS Sopu.
            Data Sekunder, data ini merupakan penunjang dari penelitian ini. Data yang dimaksud yakni data keadaan penduduk dan budaya yang ada dalam masyarakat dongi-dongi. Data tersebut berada dalam Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BBTNLL), selaku pemangku jabatan Taman Nasional  serta literatur-literatur yang menunjang dalam penelitian ini.
3.2.2        Analisis Data
3.2.2.1  Penentuan Analisis Tingkat Kekritisan Lahan
            Untuk penetapan kekritisan lahan dalam suatu wilayah, maka nilai dari setiap faktor dijumlahkan setelah masing-masing dikalikan dengan nilai timbangan sesuai dengan besarnya pengaruh relatif terhadap kepekaan wilayah yang bersangkutan terhadap erosi (Helmi, 2003). Persamaan yang digunakan untuk menghitung nilai penentuan kawasan hutan lindung adalah :
SKOR = ( 20 x faktor kls lereng) + (15 x faktor kls penutupan lahan) + (10 x faktor kls tanah) + (10 x faktor kls curah hujan).
Hasil  Kriteria kekritisan lahan :
         Ringan ( skor 55 – 160 )
          Sedang ( skor 161 – 270 )
          Berat ( skor 271 – 375 )

Klasifikasi Intensitas Curah Hujan

Kelas Intensitas
Curah hujan
Intensitas Curah hujan
(mm/tahun)
Klasifikasi CH
1
3000-3500
Sangat rendah
2
3500-4000
Rendah
3
4000-4500
Sedang
4
4500-5000
Tinggi
5
5000-6000
Sangat Tinggi
Sumber : Asdak 1995
Klasifikasi Faktor Topografi
Kelas
Kemiringan (%)
Klasifikasi
1
0 – 8
Datar
2
8 – 15
Landaian
3
15 – 25
Agak Curam
4
25 - 40
Curam
5
>        40
Sangat Curam
Sumber : Asdak 1995
Klasifikasi Faktor Tutupan Lahan

Tipe Penutupan Lahan
1
Hutan
2
Kebun
3
Kebun Teh
4
Sawah
5
Builtup
6
Ladang
7
Alang-alang/rumput
8
Semak
9
Lahan terbuka
Sumber : Asdak 1995

Klasifikasi Kepekaan Jenis Tanah terhadap Erosi
Kelas tanah
Jenis tanah
1
Latosol coklat kemerahan
2
Asosiasi Latosol coklat kemerahan dan latosol coklat
3
Asosiasi latosol dan regosol kelabu
4
Andosol coklat kekuningan
5
Asosiasi andosol coklat dan regosol coklat
6
Komplek regosol kelabu dan litosol
Sumber : Asdak 1995
3.2.2.2  Pembuatan Peta Analisis Tingkat Kekritisan Lahan
Peta Curah hujan
Peta Tanah
Peta kelerengan
Peta Penutupan Lahan
Klasifikasi dari faktor-faktor kekritisan lahan dengan skor yang ada, dimasukkan dalam Software ArcView 3,3 untuk menghasilkan data tingkat kekritisan lahan berdasarkan peta digital. 

                                                                                               



                                                                        =  Peta Kekritisan Lahan
Konsep Operasional
1.      Analisis adalah penetapan kebenaran suatu hal atau perumusan umum mengenai suatu gejala dng cara mempelajari kasus atas kejadian khusus yg berhubungan dengan hal itu atau penelaahan dan penguraian data hingga menghasilkan simpulan.
2.      Kekritisan Lahan adalah suatu keadan lahan yang kondisi fisiknya tidak dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan media produksi dan tata air.
3.      Sistem Informasi Geografi (SIG) adalah suatu sistem yang digunakan untuk memetakan kondisi dan peristiwa yang terjadi dimuka bumi dan  Suatu komponen yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak dan sumber daya manusia yang bekerja bersama secara efektif untuk memasukan, menyimpan, memperbaiki, memperbaharui, mengelola, memanipulasi, mengintegrasikan, menganalisa dan menampilkan data dalam suatu informasi berbasis geografis
4.      Peta Analog adalah dalam bentuk cetakan. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi, sehingga sudah mempunyai referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan sebagainya.
5.      Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor dan erosi. Curah hujan sebesar 1 mm artinya adalah “tinggi” air hujan yang terukur setinggi 1 mm pada daerah seluas 1 m2 (meter persegi). Artinya “banyaknya” air hujan yang turun dengan ukuran 1 mm adalah 1 mm x 1 m2 = 0,001 m3 atau 1 liter.
6.      Topografi adalah studi tentang bentuk permukaan bumi dan bentuk objek lain. Objek dari topografi adalah mengenai posisi suatu bagian dan secara umum menunjuk pada koordinat secara horizontal seperti garis lintang dan garis bujur, dan secara vertikal yaitu ketinggian.
7.      Tutupan Lahan adalah kondisi permukaan lahan yang didasarkan pada berbagai jenis tipe lahan seperti hutan,sawah, ladang, kebun dan sebagainya.
8.      Kepekaan Jenis Tanah Terhadap erosi  merupakan mudah atau tidaknya suatu tanah untuk dihancurkan oleh jatuhnya butir-butir hujan atau oleh kekuatan aliran permukaan.


di koment ya

0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Posting Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???