Rabu, 04 Desember 2013

Teknik pemanenan hutan ramah lingkungan


gambar : penebangan kayu hutan
 
Pemanenan hutan dapat diartikan sebagai serangkaian tahapan kegiatan yang mengubah nilai potensial hasil hutan (kayu dan non-kayu) menjadi barang (kayu bulat atau hasil hutan non-kayu lainnya) yang  bernilai aktual. Tujuan dilakukan pemanenan hutan adalah untuk meningkatkan nilai hutan, mendapatkan produk hasil hutan yang dibutuhkan masyarakat, memberi kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar hutan, memberikan kontribusi kepada devisa negara dan membuka akses wilayah. Sejalan dengan berkembangnya teknologi pemanenan hutan maka diharapkan kegiatan pemanenan hutan dilakukan adalah ramah lingkungan.

Redused Impact Logging atau biasa di singkat dengan RIL adalah suatu pendekatan sistematis dalam perencanaan, pelaksanaan, pelaksanaan, dan evaluasi terhadap pemanenan kayu. RIL merupakan penyempurnaan praktek pembuatan jalan, penebangan dan penyaradan yang saat ini sudah ada. RIL memerlukan wawasan kedepan dan keterampilan yang baik dari para operatornya serta adanya kebijakan/policy tentang lingkungan yang mendukungnya.

Pengelolaan dan pemanenan hutan alam Indonesia diatur dalam sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI). TPTI merupakan tahapan pengelolaan hutan yang  terencana, terdiri dari penebangan, penanaman areal bekas tebangan dan pemeliharaan tegakan tinggal untuk menjaga kelestarian hasil hutan kayu dan non-kayu. TPTI ini dilakukan untuk memperoleh struktur dan komposisi tegakan tidak seumur yang  optimal dan lestari. Syarat dimeter  pohon yang diijinkan untuk ditebang pada sistem ini adalah unutk hutan darat > 50 cm, sedangkan HPT >60 cm. Dengan menerapkan sistem-sistem tersebut maka keberadaan hutan dengan luasan, keadaan dan kualitas ideal tertentu seperti yang dikehendaki, merupakan keluaran pemanenan hutan yang harus dicapai agar hasil yang diharapkan untuk diperoleh, berupa barang, manfaat, dan nilai-nilai ekosistem yang telah ditentukan dapat dicapai.
Praktek RIL sebetulnya sudah direkomendasikan di dalam TPTI, namun jarang diterapkan di lapangan karena berbagai alasan, antara lain :
  1. Kurangnya pengawasan terhadap praktek pemanenan kayu.
  2. Kurangnya ketegasan dalam pelaksanaan RIL.
  3. Kurangnya pemahaman keuntungan dari pelaksanaan RIL
  4. Kurangnya pemahaman terhadap tahapan yang diperlukan dalam pelaksanaan RIL dan kurangnya keahlian khusus.
Pada umunya sudah diakui bahwa praktek pemanenan kayu yang berlangsung pada saat ini perlu diperbaiki atau disempurnakan untuk memperoleh kondisi hutan yang lebih baik pada siklus tebang berikutnya. Sebagai anggota International Tropical Timber Organization (ITTO), pengakuan yang dikemukakan oleh rimbawan – rimbawan Indonesia ini ada kaitannya dengan ITTO’s Year 2000 Objective untuk mencapai pengelolaan hutan lestari.
Kemajuan dalam pengelolaan hutan lestari akan dipromosikan dengan penetapan teknik RIL, yaitu suatu teknik yang bertujuan mengurangi kerisakan pada tanah dan tegakan tinggal serta dampaknya terhadap kehidupan satwa liar.
Para manajer hutan makin dituntut untuk meningkatkan kualitas kegiatan pengelolaannya dan melaksanakan pengelolaan hutan dengan standar yang lebih baik. Salah satu cara melakukan hal tersebut adalah dengan penerapan teknik RIL. Penerapan teknik RIL dapat memberikan beberapa kebaikan, antara lain:
  1. Pengurangan resiko lingkungan dan sosial.
  2. Biaya aplikasi teknik Ril dalam operasi pemanenan hutan tidak berbeda nyata dengan cara pemanenan konvensional, tetapi teknik RIL memberikan keuntungan ekologis dan sosial yang sangat tinggi dibandingkan cara konvensional.
  3. Penerapan teknik RIL memberikan jaminan kepada konsumen untuk menggunakan komoditi yang dihasilkan dari operasi pemanenan berbasis RIL.
  4. Penerapan teknik RIL menghasilkan operasi pemanenan yang mengindahkan kebijakan dan peraturan.
Adanya suatu proyek pemanenan hutan mempengaruhi dan akan menyebabkan dampak kepada lingkungan. Dampak merupakan selisih keadaan lingkungan tanpa proyek dengan keadaan lingkungan dengan proyek. Dampak yang disebabkan tersebut dapat berupa:
  1. Dampak langsung atau turunan
  2. Pulih (reversible)/tidak pulih (irreversible=sangat penting)
  3. Sementara/short term/long term
  4. Luas/sempit
  5. Positif atau negatif
  6. Penting/tidak penting
Lingkungan merupakan suatu kesatuan areal tertentu dengan segala sesuatu yang berada di dalam dan sistem hubungan satu dengan lainnya atau segala sesuatu di sekitar objek yang saling mempengaruhi. Lingkungan dapat dibedakan dalam tiga komponen besar sebagai berikut:
  1. Lingkungan fisik dan kimia (tanah, air dan udara)
  2. Lingkungan  biologi (tegakan hutan dan satwa liar)
  3. Lingkungan manusia (sosial, ekonomi dan budaya)
Dampak dapat ditentukan dan ditetapkan melalui mekanisme berikut:
  1. Identifikasi dampak (komponen lingkungan yang terkena dampak)
  2. Mengukur besarnya dampak/perhitungan dampak yang akan terjadi
  3. Penggabungan beberapa komponen lingkungan yang sangat berkaitan, dianalisis dan digunakan untuk menetapkan dampak
Dampak yang terjadi pada komponen fisik dan kimia adalah kebisingan, kualitas udara, dan tanah.
  1. Kebisingan
Kebisingan terjadi di daerah atau di sekitar areal proyek penebangan/pemanenan hutan berlangsung. Dampak yang dapat dirasakn oleh manusia di daerah sekitar proyek tersebut antara lain:
  • Perubahan ketajaman pendengaran
  • Mengganggu pembicaraan
  • Mengganggu kenyamanan
Dimana untuk kasus pemanenan hutan, sumber dampak kebisingan berasal dari :
  • Chainsaw
  • Traktor
  • Truck/trailer
  1. Pencemaran udara (Kualitas Udara)
Pencemaran udara, masuknya satu atau lebih bahan pencemar kedalam atmosfir terbuka seperti debu, uap, gas, kabut, bau, asap yang dicirikan oleh jumlah, sifatnya dan lamanya. Pencemaran udara mengganggu kesehatan manusia, tanaman, binatang, mengganggu pandangan mata, kenyamanan hidup. Bahan pencemar udara lainnya karbondioksida, karbon monoksida, sulfur oksida (SO2), nitrogen oksida (NO2), zat radioaktif, panas, kebisingan dll.
Untuk kasus pemanenan sumber dampak adalah:
  • Pembuatan badan jalan
  • Pengangkutan kayu
  • Penggunaan insektisida
  • Kebakaran hutan /pembakaran lahan untuk peruntukan lain (sumber asap)

  1. Tanah
Erosi merupakan peristiwa berpindahnya atau terangkatnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Run-off adalah air yg mengalir diatas permukaan tanah. Proses erosi oleh air adalah kombinasi dua sub proses yaitu penghancuran struktur tanah menjadi butir-butir primer oleh energi tumbuk butir-butir hujan yang jatuh menimpa tanah dan perendaman oleh air yg tergenang, pengangkutan butir-butir primer tanah tersebut oleh air yang mengalir di permukaan tanah.
Dampak biologis penting adalah dampak pada species yang sudah jarang atau terancam punah. Pada pemanenan hasil hutan dampak tersebut pada vegetasi berupa :
  • Kerusakan tegakan tinggal.
  • Mutasi satwa liar.
  • Mikroorganisme.
  • Species flora dan fauna yang jarang dan terancam punah.
  • Biota air.
Dampak yang terjadi pada komponen lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya :
  • Pola perkembangan penduduk (jumlah, umur, perbandingan kelamin dsb)
  • Pola perpindahan (keluar masuk suatu daerah, musiman dan tetap)
  • Pola perkembangan ekonomi (hubungan perkembangan penduduk dan perpindahan penduduk terhadap sumberdaya alam dan sumber pekerjaan
  • Keadaan struktur penduduk (jumlah, kepadatan, keanekaragaman, mobilitas)
  • Perilaku sehari-hari, adat istiadat, interaksi kelompok agama, kepercayaan
  • Sikap, nilai, persepsi terhadap lingkungan
  • Distribusi kekuasaan dan sistem stratifikasi sosial
  • Sejarah budaya yang patut dipelihara
  • Hak adat/ulayat serta potensi konflik

di koment ya

1 komentar:

  1. Terimakasih atas informasinya

    irhamabdulazis271.student.ipb.ac.id

    BalasHapus

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???