Kamis, 07 November 2013

Sistem dan teknik silfikultur menurut para Ahli

Matthews (1989) mendefinisikan sistem Silvikultur “ as the process by which the crops constituting a forest are tended, removed, and replaced by new crops, resulting in the production of stand of distinctive form”. Sistem Silvikultur terbangun oleh tiga ide utama (Matthews, 1989).: a. Metoda regenerasi individu pohon dalam hutan b. Bentuk tegakan yang dihasilkan c. Susunan/komposisi tegakan di dalam hutan secara keseluruhan dengan melihat pertimbangan pada silvikulturnya, perlindungannya dan efisiensi pemanenannya. Sedangkan Departemen Kehutanan (1989) mendefinisikan Sistem Silvikultur sebagai Rangkaian kegiatan berencana mengenai pengelolaan hutan yang meliputi; Penebangan, Peremajaan dan Pemeliharaan tegakan hutan guna menjamin kelestarian produksi kayu atau hasil hutan lainnya, kemudian melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 150/kpts-II/2003, definisi praktis Sistem Silvikultur adalah sistem Budidaya hutan atau teknik bercocok tanam hutan yang dimualai dari pemilihan bibit, pembuatan tanaman, sampai pada pemanenan atau penebangannya. Di dalam “The Silvicultural Systems Guidebook (1995) “Sistem Silvikultur” didefinisikan sebagai berikut: A silvicultural system is a planned program of treatments throughout the life of the stand to achieve stand structural objectives based on integrated resource management goals. A silvicultural system includes harvesting, regeneration and stand-tending methods or phases. It covers all activities for the entire length of a rotation or cutting cycle. Dalam prakteknya, telah banyak Sistem Silvikultur yang digunakan diberbagai Negara. Matthews (1989) menyebutkan terdapat 15 Sistem Silvikultur yang telah digunakan yaitu ;(1) The clear cutting system, (2) Shelterwood systems, (3). The uniform system, (4). The group system, (5). The irregular shelterwood system, (6) Strip systems (7) The tropical shelterwood system (8) The selection system (9) The group selection system, (10) Accessory systems, (11) The coppices system, (12) The coppice selection system, (13) Coppice with standards, (14). Conversion dan (15) Agro-forestry systems. Adapun TPI, TPTI, TPTJ, SILIN, pada dasarnya adalah modifikasi dari system yang telah ada. Teknik Silvikultur Smith (1962) dalam bukunya The Practice of Silviculture, menjelaskan bahwa bidang dari “The Silviculture Practice” meliputi penggunaan berbagai macam perlakuan (treatment) terhadap tegakan hutan untuk dapat mempertahankan dan bahkan meningkatkan produktivitasnya. Setiap perlakuan yang diberikan mempunyai cara-cara atau teknik yang berbeda tergantung pada level mana perlakuan itu diberikan. Dengan demikian pengertian dari Teknik Silvikultur sebenarnya lebih mengarah kepada suatu metode atau cara dalam memberikan perlakuan terhadap tegakan hutan sesui dengan tujuan yang telah ditetapkan oleh pengelola hutannya. Perlakuan yang diberikan dapat pada fase Permudaan, Pemeliharaan maupun Pemanenan. Dari uraian mengenai Silvikultur, Sistem Silvikultur dan Teknik Silvikultur, maka dapat dibuat suatu kesimpulan bahwa Silvikultur merupakan suatu ilmu untuk mengelola tegakan hutan melalui pengontrolan pembangunan tegakan, pertumbuhan dan komposisinya serta kualitas dari tegakan yang dihasilkan sesuai dengan tujuan pengelolannya yang telah ditetapkan sejak awal. Agar tujuan pengelolaan tersebut dapat tercapai, maka diperlukan perlakuan yang terencana dan terprogram untuk seluruh siklus tebangnya mulai dari regenerasinya, pemeliharaan, monitoring pertumbuhan dan pemanenannya, yang terwadahi dalam satu sistem yaitu Sistem Silvikultur. Di dalam setiap perlakuan, terdapat teknik-teknik yang digunakan dan bersifat specifik untuk setiap fase kegiatan yang terwadahi dalam Teknik Silvikultur.

di koment ya

0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Poskan Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???