Jumat, 29 Maret 2013

tikus unik penyedot cacing di hutan sulawesi

 Tikus nyaris ompong bernama Paucidentomys vermidax di hutan Sulawesi, Indonesia. Foto: Dr. Kevin Rowe/ Museum Victoria Melbourne, Australia  



Forester untad blog,.. Seekor tikus, seperti umumnya kita ketahui, memakan makanan mereka dengan menggigitnya atau mengeratnya dengan gigi mereka yang kuat dan tajam. Namun tikus yang satu ini memang sangat berbeda. Spesies yang baru ditemukan oleh para ahli di hutan Sulawesi ini, tidak memiliki gigi sebanyak jenis tikus lainnya. Mereka, berburu mangsa dengan menyedot mangsa mereka setelah meremasnya untuk mengeluarkan kotoran si mangsa.
Tikus pemakan cacing tanah bernama latin Paucidentomys vermidax ini ditemukan oleh ahli biologi dari Museum Victoria, Australia, Dr. Kevin Rowe. Menurut Kevin kemampuan mencari mangsa ini adalah hasil dari adaptasi tikus ini dengan alam mereka. “Kebiasaan ini dibangun oleh tikus ini untuk beradaptasi dengan alam hutan Sulawesi dengan tanah yang berlumut, dimana hidung yang panjang dan gigi seri bagian depan yang tajam sangat berfungsi untuk mencari makanan,” jelas Kevin.
Hewan jenis pengerat (rodent) selama ini selalu diasosiasikan dengan kemampuan mereka untuk mengerat makanan dan menggiling makanan mereka. Nama Rodentia berasal dari kata dalam bahasa latin rodere, yang berarti menggerogoti dan dentis yang berarti gigi. Dengan keberadaan tikus Sulawesi ini maka makna hewan pengerat kini tak lagi sepenuhnya lekat dengan dua kata di atas, karena tikus spesies baru ini mncari makan dengan menghisap cacing tanah.
Sama dengan hewan pemakan cacing lainnya, tikus unik ini menggunakan cakar depan mereka untuk mengeluarkan isi perut si cacing sebelum memakannya.
Menurut Dr. Jacob Esselstyn dari McMaster University Canada yang juga bekerja untuk meneliti tikus tanah ini, ketiadaan gigi geraham pada spesies baru ini membedakannya dari 2200 jenis tikus lain yang sudah ditemukan. “Mungkin akibat lamanya gigi geraham tidak digunakan, maka secara alamiah kemudian gigi geraham ini kemudian hilang, karena alam hanya mempertahankan karakter yang diperlukan spesies untuk hidup,” ungkap Jacob.
Tulisan lengkap tentang penemuan tikus unik di hutan Sulawesi ini bisa dinikmati lebih lengkap di jurnal Biology Letters.



di koment ya

0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Poskan Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???