Rabu, 02 Oktober 2013

Makalah burung Maleo, Hewan endemik sulawesi tengah

Oleh : RAHMAT HIDAYAT
 
I.              PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Burung Maleo yang dalam nama ilmiahnya Macrocephalon maleo adalah sejenis burung yang berukuran sedang, dengan panjang sekitar 55cm. Burung Maleo adalah satwa endemik Sulawesi, artinya hanya bisa ditemukan hidup dan berkembang di Pulau Sulawesi, Indonesia. Selain langka, burung ini ternyata unik karena anti poligami. Burung ini tidak akan bertelur lagi setelah pasangannya mati.
Burung Maleo memiliki bulu berwarna hitam, kulit sekitar mata berwarna kuning, iris mata merah kecoklatan, kaki abu-abu, paruh jingga dan bulu sisi bawah berwarna merah-muda keputihan. Di atas kepalanya terdapat tanduk atau jambul keras berwarna hitam. Jantan dan betina serupa. Biasanya betina berukuran lebih kecil dan berwarna lebih kelam dibanding burung jantan.
Populasi terbanyaknya kini tinggal di Sulawesi Tengah. Salah satunya adalah di cagar alam Saluki, Donggala, Sulawesi Tengah. Di wilayah Taman Nasional Lore Lindu ini, populasinya ditaksir tinggal 320 ekor. Karena populasinya yang kian sedikit, burung unik dan langka ini dilindungi dari kepunahan. Maleo dikategorikan sebagai terancam punah di dalam IUCN Red List. Spesies ini didaftarkan dalam CITES Appendix I.
Populasi Maleo terancam oleh para pencuri telur dan pembuka lahan yang mengancam habitatnya. Belum lagi musuh alami yang memangsa telur Maleo, yakni babi hutan dan biawak. Habitatnya yang khas juga mempercepat kepunahan. Maleo hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegununungan yang memiliki sumber mata air panas atau kondisi geothermal tertentu. Sebab di daerah dengan sumber panas bumi itu, Maleo mengubur telurnya dalam pasir.
Anak maleo yang telah berhasil menetas harus berjuang sendiri keluar dari dalam tanah sedalam kurang lebih 50cm (bahkan ada yang mencapai 1 m) tanpa bantuan sang induk. Perjuangan untuk mencapai permukaan tanah akan membutuhkan waktu selama kurang lebih 48 jam. Inipun akan tergantung pada jenis tanahnya. Sehingga tak jarang beberapa anak maleo dijumpai mati “ditengah jalan". Anak yang baru saja mencapai permukaan tanah sudah memiliki kemampuan untuk terbang dan mencari makan sendiri (tanpa asuhan sang induk).
1.2 Manfaat dan tujuan
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui respon fisiologis burung maleo yang mendapat pakan pada saat pertumbuhan.
II.            TINJAUAN PUSTAKA
Burung maleo yang dalam nama ilmiahnya dikenal dengan sebutan Macrocephalon maleo (Macrocephalon = kepala besar), termasuk dalam keluarga Megapodidae (Megapoda = kaki besar). Burung maleo adalah salah satu hewan endemik pulau Sulawesi, yang hanya dapat dijumpai di Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara (Whitten, 1987). Saat ini populasi burung maleo yang terdapat di Sulawesi Tengah, di cagar alam Saluki, Kabupaten Sigi dengan populasi sekitar 178 ekor dan di Taman Nasional Lore Lindu dengan populasi diperkirakan mencapai 500 ekor (Mallombasang, 1995). Pada tahun 1990 Pemeritah Daerah Sulawesi Tengah berdasarkan SK. No. Kep. 188.44 / 1067 / RO / BKLH tanggal 24 Februari 1990, menetapkan burung maleo sebagai “ Satwa Maskot ” Propinsi Sulawesi Tengah.
Burung maleo merupakan hewan yang berhabitat sangat khas, hanya bisa hidup di dekat pantai berpasir panas atau di pegunungan yang memiliki sumber mata air panas, sebab di daerah ini burung maleo bisa mengerami telurnya yaitu dengan cara mengubur telur di dalam pasir hingga kedalaman 15 cm (Gunawan, 1974). Hasil penelitian di Tanjung Batikolo Sulawesi Tenggara menunjukkan bahwa tempat bertelur burung maleo adalah pada pantai pasir putih dengan kondisi lingkungan yang dibatasi langsung oleh vegetasi tumbuhan tingkat tinggi, dengan kedalaman peletakkan telur antara 60 dan 75 cm dari permukaan tanah (Anonymous, 1976 dalam Zulfikar, 2004).
Burung maleo bertelur sepanjang tahun, tetapi siklus bertelurnya sampai saat ini belum diketahui. Wiriosoepartho (1980) menyatakan bahwa satu siklus bertelur burung maleo memerlukan waktu antara 10 dan 13 hari. Menurut Wiriosoepartho (1980), hasil wawancara dengan penduduk disekitar Cagar Alam Panua (Sulawesi Utara) telah didapat kisaran waktu antara 6 dan 10 hari burung maleo akan kembali ketempat bertelurnya untuk bertelur. Nurhayati (1986) menemukan antara 10 dan 12 hari maleo kembali ketempat yang sama untuk bertelur lagi.
Di Sulawesi Tenggara, produksi telur burung maleo terlihat meningkat pada saat curah hujan rendah di bulan Agustus – September, sedangkan di Sulawesi Selatan peningkatan produk telur berlangsung dari bulan April – September (Nurhayati, 1986). Mengenai waktu bertelur, beberapa peneliti mengemukakan antara pukul 06.00 – 12.00 pagi hari dan bila tidak dapat bertelur pada jam tersebut karena adanya gangguan, maka waktu bertelur diundur sampai sore hari antara pukul 14.00 - 17.00 atau selambat – lambatnya pagi hari esoknya (Kadillah, 1972 dalam Addin, 1992). Jumlah telur yang dihasilkan dalam satu musim bertelur sekitar 19 butir (Wiriosoepartho, 1980).
Burung maleo merupakan satwa langka yang terancam punah selain disebabkan oleh predator liar misalnya babi hutan, biawak, ular dan burung elang, juga oleh akibat perburuan manusia, misalnya dengan perusakan habitat dan eksploitasi yang berlebihan dan tingkat reproduksinya yang lambat (Kophalindo, 1994). Salah satu cara untuk pelestarian burung maleo yaitu dengan cara penangkaran. Penangkaran adalah merupakan kegiatan yang ditunjukkan untuk meningkatkan populasi satwa liar, baik yang dilaksanakan di habitat aslinya (in situ) maupun diluar habitat aslinya (ex situ). Kegiatan penangkaran ini mencakup usaha pengumpulan bibit, telur, pembiakan, penetasan telur, pemeliharaan, pembesaran dan pelepasan ke alam bebas (restocking) (Addin, 1992). Dalam upaya pembiakan, perlu di lakukan misalnya dengan peningkatan kinerja reproduksinya, memperhatikan status fisiologis burung maleo dengan pemberian pakan.
Penangkaran ex situ telah dilakukan dengan mengontrol pola pemberian pakan. Pola pemberian pakan yang diberikan dengan mengatur imbangan energi dan protein. Berdasarkan pengamatan yang telah di peroleh menunjukkan PBBH (Pertambahan Bobot Badan Harian) yang baik sehingga burung maleo dapat melakukan adaptasi dengan baik. Permasalahan yang timbul adalah reproduksi tidak bisa terjadi dengan normal (Rusiyantono et al, 2011). Pemberian pakan pada awal kehidupan anak burung maleo akan berpengaruh terhadap proses fisiologis yang selanjutnya akan berdampak secara fisik terhadap performans burung maleo pada periode selanjutnya.
III.           PEMBAHASAN
3.1          Klasifikasi Maleo
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Class : Aves
Order : Galliformes
Family : Megapodiidae
Genus : Macrocephalon
Species : Macrocephalon maleo
3.2  Sifat Hidup
Maleo termasuk jenis satwa yang aneh kerena tak pernah memperhatikan kelangsungan hidup dari keturunannya. Burung ini meletakkan telurnya didalam pasir panas dan dibiarkan tanpa pengawasan sama sekali dari induknya sampai telur menetas. Maleo kecil yang baru lahir harus mencari makan sendiri tanpa bimbingan dari pengasuh untuk mulai hidup di alam bebas.
Meskipun memiliki sayap dengan bulu yang cukup panjang, namun lebih senang jalan kaki dari pada terbang. Biasanya yang dewasa sering diketemukan berpasangan ditempat terbuka dan berpasir panas. Dalam bertelur, Maleo jantan dan betina secara bergantian menggali lubang  untuk meletakkan telurnya. Telur tadi ditimbun lagi dan ditinggalkan begitu saja dan tak pernah diurus lagi.
Maleo (Macrocephalon maleo) memakan aneka biji-bijian, buah, semut, kumbang serta berbagai jenis hewan kecil.

3.3  habitat dan penyebaran
Habitat atau tempat hidup Maleo adalah daerah berpasir atau pada aliran sungai yang berpasir maupun disekitar sumber-sumber air panas di dalam hutan sampai daerah pasir pantai.
Maleo (Macrocephalon maleo) termasuk jenis burung endemik Sulawesi dan penyebaran di Sulawesi Tengah relatif luas namun saat ini mulai terancam punah karena habitat yang semakin sempit dan telur-telurnya yang diambil oleh manusia. Diperkirakan jumlahnya kurang dari 10.000 ekor saat ini. Maleo(Macrocephalon maleo) tergolong satwa liar yang langka dan dilindungi
Lokasi kawasan konservasi yang telah ditunjuk/ditetapkan sebagai tempat konservasi Maleo, diantaranya Suaka Margasatwa Bakiriang di Kabupaten Banggai (Sulawesi Tengah, Suaka Margasatwa Pinjan-Tanjung Matop di Kabupaten Toli-toli (Sulawesi Tengah), Cagar Alam (CA) Morowali di Kabupaten Morowali (Sulawesi Tengah),  Taman Nasional (TN) Lore Lindu di Kabupaten Donggala (Sulawesi Tengah), dan Taman Nasional Bogani Nani Wartabone di Kabupaten Bolaang Mongondow (Sulawesi Utara) dan Kabupaten Gorontalo (Gorontalo). Selain di tempat-tempat tersebut, maleo masih terdapat di hutan-hutan yang ada di Sulawesi Tengah.
Sejak tahun 1990 berdasarkan SK. No. Kep. 188.44/1067/RO/BKLH tanggal 24 Pebruari 1990 "Maleo" ditetapkan sebagai "Satwa Maskot" daerah Sulawesi Tengah. Ini merupakan kebanggaan bagi masyarakat Sulawesi Tengah dan Indonesia pada umumnya. Demikian juga menjadi citra bagi bangsa Indonesia di dunia Internasional.
3.4  pemanfaatan
Maleo adalah jenis satwa yang peka terhadap gangguan. Gangguan di alam bebas antara lain : terdesaknya habitat terutama yang berada di luar kawasan konservasi, pemanfaatan telurnya oleh manusia serta predator antara lain : Biawak (Varanus sp), Babi Hutan (Sus sp).
Upaya budi daya/penangkaran relatif masih sulit dan belum ada yang berminat melakukannya. Namun demikian justru perkembangan populasi secara alamiah pada habitat aslinya yang diutamakan. Apabila ini terjadi sudah tentu akan menjamin kelangsungan hidupnya sepanjang masa.
Pemanfaatan yang dapat dilakukan antara lain untuk menunjang kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan/pendidikan budidaya. Pemanfaatan lain yakni sebagai atraksi wisata secara terbatas, pada habitat alamnya baik di kawasan konservasi (suaka alam) maupun diluar kawasan konservasi.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
·         Status faali burung maleo (Macrocephalon maleo), yaitu sebesar 40,72 ± 1,58 terhadap suhu tubuh, 60,89 ± 3,61 terhadap frekuensi respirasi dan 58,83 ± 1,33 terhadap frekuensi pulsus.
·         Suhu tubuh, frekuensi respirasi dan frekuensi pulsus memiliki korelasi yang positif dimana peningkatan suhu tubuh juga diikuti oleh peningkatan frekuensi respirasi dan frekuensi pulsus.
·         Status faali dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain luas permukaan tubuh ternak, aktifititas ternak, temperatur, kondisi tubuh, jenis kelamin, aktifitas metabolisme dan faktor umur.
4.2. Saran
                   Diperlukan studi lebih mendalam tentang cara yang paling tepat untuk meningkatkan pola produktifitas dan reproduktifitas burung maleo (Macrocephalon maleo).
DAFTAR PUSTAKA
Addin, A., 1992. Karakteristik Mikro Habitat Tempat Bertelur Burung Maleo (Macrocephalon maleo) pada Habitat Alami dalam Upaya Penangkaran di Suaka Margasatwa Buton Utara. Sulawesi Tenggara. Jurusan Konservasi Sumberdaya Hutan Fakultas Kehutanan. IPB. Bogor.

Gunawan, H.,1974. Sedikit Keterangan Mengenai Burung Maleo (Macrocephalon maleo Sal. Muller 1846). Majalah Kehutanan Indonesia, Tahun 1 Desember 1974.

Hafez, E.S.E., 1968. Adaptation of Domestics Animals. Lea Febiger, Philadelphia.

Kophalindo., 1994. Keanekaragaman Hayati di Indonesia. Kajian Lingkungan Hidup.
.
Kinnaird, MF., 1997. Sulawesi Utara: Sebuah Panduan Sejarah Alam. Yayasan Pengembangan Wallacea. GEF-Biodiversity Collections Project. SULUT.

MacKinnon, J., 1981. Methods for the Conservation of Maleo Birds, Macrocephalon Maleo on the Island of Sulawesi, Indonesia. Biologi Conservation.

Mallombasang, S. N., 1995. Pengelolaan Satwa Liar. PAU-IPB, Bogor.

Nurhayati, B.N.,1986. Masalah Pelestarian Burung Maleo. Makalah Pengelolaan Suaka Alam dan Margasatwa; Program Studi Ilmu Lingkungan Ekologi Manusia. Fakultas Pasca Sarjana. Universitas Indonesia.

Priyono, A., 1997. Pengaruh Pencukuran dan Level Energi Ransum Terhadap Performa Domba Lokal. Tesis. Program Pascasarjana Universitas Padjajaran. Bandung.

Rusiyantono,Y., I. Mumu and M. Tanari.,2011. Conservation of Maleo (Macrocephalon maleo) Arrooght Regulation of Feeding Management J. Biodiversitas. 11. 196-225.

Siregar, S.B., 1982. Pengaruh Ketinggian Tempat dan Penggunaan Makanan terhadap Status Faali dan Pertumbuhan Kambing dan Domba Lokal. Thesis. Program Pascasarjana Universitas Padjajaran, Bandung.

Sumoprastowo, C.D.A., 1987. Beternak Kambing yang Berhasil. Bhrata Niaga Mega, Jakarta.

Zulfikar., 2004. Karakteristik Fisik Lubang Bertelur Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Suaka Margasatwa Tanjung Matop Kabupaten Tolitoli, Skripsi. Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Tadulako.


SEKIAN DAN TERIMA KASIH

di koment ya

2 komentar:

  1. Terimakasih atas informasinya

    irhamabdulazis271.student.ipb.ac.id

    BalasHapus
  2. Trimakasi,,,,,,,,, sangat membantu kmi

    BalasHapus

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???