KEBUN JATI

Terletak di Desa Talaga Kecamatan Dampelas, dengan Luas 7 ha.

PANTAI BAMBARANO

Pantai berkarang indah ini terletak di Desa Sabang kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala.

JEMBATAN PONULELE

Jembatan Kebanggan warga Palu ini berada diwilayah pantai talise menuju arah donggala.

TANJUNG KARANG

salah satu objek wisata pantai, yang terletak di ujung pantai Donggala, dengan suasana pantai yang terasa nyaman.

situs Tadulako dan Pokekea

situs sejarah ini berada di lembah Besoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah..

Tampilkan postingan dengan label ekologi hutan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ekologi hutan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 September 2020

jenis metode penyuluh kehutanan

 


Metode penyuluhan kehutanan merupakan cara penyampaian materi penyuluhan kehutanan kepada pelaku utama dan pelaku usaha agar mereka mau dan mampu menolong dan mengorganisasikan dirinya dalam mengakses informasi pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya sebagai upaya untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi usaha,pendapatan dan kesejahteraannya serta meningkatkan kesadaran dalam melestarikan fungsi lingkungan hidup.

Metode penyuluhan kehutanan erat kaitannya dengan metode belajar oranag dewasa (andragogy). Penyuluh, yang menjalankan tugas utamanya sebagai pendidik, pengajar dan pendorong, selalu berhubungan dengan sasaran penyuluhan yang biasanya adalah para masyarakat menengah kebawah. Menurut Mardikanto (1993), sebagai suatu proses pendidikan, maka keberhasilan penyuluhan sangat dipengaruhi oleh proses belajar yang dialami dan dilakukan oleh sasaran penyuluhan. Dalam pelaksanaan penyuluhan, pemahaman proses belajar pada orang dewasa serta prinsip-prinsip yang harus dipegang oleh seorang penyuluh dalam menjalankan tugasnya menjadi sangat penting peranannya karena dapat membantu penyuluh dalam mencapai tujuan penyuluhan yang telah ditentukannya.

Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), pilihan seorang agen penyuluhan terhadap satu metode atau teknik penyuluhan sangat tergantung kepada tujuan khusus yang ingin dicapainya dan situasi kerjanya. Karena beragamnya metode penyuluhan yang dapat digunakan dalam kegiatan penyuluhan, maka perlu diketahui penggolongan metode penyuluhan menurut jumlah sasaran yang hendak dicapai. Berdasarkan pendekatan sasaran yang ingin dicapai, penggolongan metode terbagi menjadi tiga yakni metode berdasarkan pendekatan perorangan, kelompok, dan massal.

 

Tujuan Pemilihan Metode Penyuluhan kehutanan

            Penggunaan panca indera tidak terlepas dari suatu proses belajar mengajar seseorang karena panca indera tersebut selalu terlibat di dalamnya. Hal inI dinyatakan oleh Socony Vacum Oil Co. Yang di dalam penelitiannya memperoleh hasil sebagai berikut: 1% melalui indera pengecap, 1,5% melalui indera peraba,3% melalui indera pencium, 11% melalui indera pendengar dan 83% melalui indera penglihat.

            Dalam mempelajari sesuatu, seseorang akan mengalami suatu prosesuntuk mengambil suatu keputusan yang berlangsung secara bertahap melalui serangkaian pengalaman mental fisikologis sebagai berikut:

1)      Tahap sadar yaitu sasaran mulai sadar tentang adanya inovasi yangditawarkan oleh penyuluh

2)      Tahap minta yaitu tumbuhnya minat yang seringkali ditandai oleh keinginanuntuk bertanya atau untuk mengetahui lebih banyak tentang segala sesuatuyang berkaitan dengan inovasi yang ditawarkan oleh penyuluh.

3)      Tahap menilai yaitu penilaian terhadap baik/buruk atau manfaat inovasi yangtelah diketahui informasinya secara lebih lengkap.

4)      Tahap mencoba yaitu tahap dimana sasaran mulai mencoba dalam skala keciluntuk lebih meyakinkan penilaiannya, sebelum menerapkan untuk skala yanglebih luas.

5)      Tahap menerapkan yaitu sasaran dengan penuh keyakinan berdasarkanpenilaian dan uji coba yang telah dilakukan/diamati sendiri.

 

Jadi tujuan pemilihan metode penyuluhan adalah:

1)      agar penyuluh kehutanan dapat menetapkan suatu metode atau kombinasi beberapa metode yangtepat dan berhasil guna,

2)      agar kegiatan penyuluhan kehutanan yang dilaksanakanuntuk menimbulkan perubahan yang dikehendaki yaitu perubahan perilaku yang dapat berdayaguna dan berhasilguna.

Penggolongan metode Penyuluhan

Pada prinsipnya metoda penyuluhan dapat digolongkan sesuai dengan macam-macam pendekatannya:

A. Penggolongan  dari Segi Komunikasi

Metoda penyuluhan dapat digolongkan kedalam 2 (dua) golongan yaitu :

1.        Metoda-metoda yang langsung (direct Communication/face to face Communication) dalam hal ini penyuluh langsung berhadapan muka dengan sasaran Umpannya: obrolan ditempat peternakan, dirumah, dibalai desa, di kantor, dalam penyelenggaraan suatu demonstrasi dan lain-lain.

2.        Metoda-metoda yang tidak langsung (indirect Communication) dalam hal ini penyuluh tidak langsung berhadapan secara tatap muka dengan sasaran, tetapi dalam menyampaikan pesannya melalui perantara (media).

 

B. Penggolongan  berdasarkan indera penerima

Adapun penggolongan metode berdasarkan indera penerima dibagi menjadi tiga golongan yaitu:

1.      Metode yang dilaksanakan dengan jalan memperhatikan. Pesan yang diterima melalui indra penglihatan. Misalnya penempelan poster, pemutaran film dan pemutaran slide.

2.      Metode yang disampaikan melalui indra pendengaran. Misalnya siaran kehutanan melalui radio dan hubungan telephone serata alat-alat audiotif lainnya.

3.      Metode yang disampaikan, diterima oleh sasaran melalui beberapa macam indra secara kombinasi. Misalnya:

1.      Demonstrasi hasil (dilihat, didengar, dan diraba)

2.      Demonstrasi cara (dilihat, didengar, dan diraba)

3.      Siaran melalui televisi (didengar dan dilihat)

 

C. Penggolongan Berdasarkan Pendekatan  Kepada Sasaran

a)      Metode berdasarkan pendekatan perorangan   

Dalam metode ini, penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasarannya secara perorangan. Metode perorangan atau personal approach menurut Kartasaputra (Setiana, 2005), sangat efektif digunakan dalam penyuluhan karena sasaran dapat secara langsung memecahkan masalahnya dengan bimbingan khusus dari penyuluh. Adapun jika dilihat dari segi jumlah sasaran yang ingin dicapai, metode ini kurang efektif karena terbatasnya jangkauan penyuluh untuk mengunjungi dan membimbing sasaran secara individu. Metode pendekatan individu akan lebih tepat digunakan dalam mendekati tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh ataupun pada golongan petani atau peternak yang menjadi panutan masyarakat setempat.

Menurut Van den Ban dan Hawkins (1999), metode pendekatan perorangan pada hakikatnya adalah paling efektif dan intensif dibanding metode lainnya, namun karena berbagai kelemahan di dalamnya, maka pendekatan ini jarang diterapkan pada program-program penyuluhan yang membutuhkan waktu yang relatif cepat. Dalam hal ini para penyuluh berhubungan secara langsung maupun tidak langsung dengan sasaran secara perorangan.Contohnya :

a.       Kunjungan ke rumah masyarakat, ataupun petani berkunjung kerumah penyuluh dan kekantor.

b.      Surat menyurat secara perorangan.

c.       Demonstrasi pilot.

d.      Belajar perorangan, belajar praktek.

e.       Hubungan telepon

b)      Metode berdasarkan pendekatan kelompok

Dalam metode pendekatan kelompok, penyuluh berhubungan dengan sasaran penyuluhan secara kelompok. Metode pendekatan kelompok atau group approach menurut Kartasaputra (Setiana, 2005) cukup efektif, dikarenakan petani atau peternak dibimbing dan diarahkan secara kelompok untuk melakukan sesuatu kegiatan yang lebih produktif atas dasar kerja sama. Dalam pendekatan kelompok banyak manfaat yang dapat diambil, di samping dari transfer teknologi informasi juga terjadinya tukar pendapat dan pengalaman antar sasaran penyuluhan dalam kelompok yang bersangkutan.

Metode kelompok pada umumnya berdaya guna dan berhasil guna tinggi. Metode ini lebih menguntungkan karena memungkinkan adanya umpan balik, dan interaksi kelompok yang memberi kesempatan bertukar pengalaman maupun pengaruh terhadap perilaku dan norma para anggotanya. Dalam hal ini penyuluh berhubungan dengan kelompok sasaran Contohya :

a.    pertemuan (contoh : di rumah, di saung, di balai desa, dan lain-lain.

b.    Perlombaan.

c.    Demonstrtasi cara/hasil.

d.    Kursus tani.

e.    Musyawarah/diskusi kelompok/temu karya.

f.     Karyawisata.

g.    Hari lapangan petani (farm field day).

Ciri khusus metode kelompok :

a. Menjangkau lebih banyak sasaran

b. Penyatuan pengalaman petani

c. Memperkuat pembentukan sikap petani

d. Pertemuan dapat diulang

e. Keterlibatan petani bisa lebih aktif

c)      Metode berdasarkan pendekatan massal

Metode pendekatan massal atau mass approach. Sesuai dengan namanya, metode ini dapat menjangkau sasaran dengan jumlah yang cukup banyak. Dipandang dari segi penyampaian informasi, metode ini cukup baik, namun terbatas hanya dapat menimbulkan kesadaran dan keingintahuan semata. Hal ini disebabkan karena pemberi dan penerima pesan cenderung mengalami proses selektif saat menggunakan media massa sehingga pesan yang diampaikan mengalami distorsi (Van den Ban dan Hawkins, 1999). Termasuk dalam metode pendekatan massal antara lain adalah rapat umum, siaran radio, kampanye, pemutaran film, penyebaran leaflet, folder atau poster, surat kabar, dan lain sebagainya.

            Dalam hal ini penyuluh menyampaikan pesannya secara langsung maupun tidak langsung kepada sasaran dengan jumlah banyak secara sekaligus.

Contohya :

a.    Rapat (pertemuan umum)

b.    Siaran pedesaan melalui Radio/TV

c.    Pemuatan film/slide

d.    Penyebaran bahan tulisan : (brosur, leaflet, folder, booklet dan sebgainya)

e.    Pemasangan Foster dan Spanduk

f.     Pertunjukan Kesenian

Beragamnya metode penyuluhan bukan berarti kita harus memilih yang paling baik dari sekian metode yang ada, tetapi bagaimana metode tersebut cocok atau sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penyuluhan. Berikut ini beberapa keuntungan dan kerugian dari ketiga metode tersebut (Setiana, 2005), yakni:

Tabel 2. Keuntungan dan kerugian metode penyuluhan perorangan, kelompok dan massal

Metode

Keuntungan

Kerugian

Penyuluhan perorangan

  Waktu lebih efisien

 Adanya persiapan yang mantap

  Komunikasi tersamar

  Sifatnya lebih formal

  Pengaruhnya relatif sukar

 Relatif lebih mudah diukur mengorganisasikan

Penyuluhan kelompok

     Relatif lebih efisien.

     Komunikator tidak tersamar

     Masalah pengorganisasian

 Pendekatan aktifitas pembentukan kelompok bersama

    Kesulitan dalam pengorganisasian aktivitas diskusi

  Memerlukan pembinaan calon pimpinan kelompok yang cakap dan dinamis

Penyuluhan massal

  Tidak terlalu resmi, pertanian massal

     Penuh kepercayaan

     Langsung dapat dirasakan

     Memakan waktu lebih banyak

     Biaya lebih besar

      Bersifat kurang efisien pengaruhnya

 

D. Metode Penyuluhan lainnya

a)      Metode Partisipatif

Metode penyuluhan kehutanan partisipatif yaitu masyarakat berpartisipasi secara interaktif, analisis-analisis dibuat secara bersama yang akhirnya membawa kepada suatu rencana tindakan. Partisipasi disini menggunakan proses pembelajaran yang sistematis dan terstruktur melibatkan metode-metode multidisiplin, dalam hal ini kelompok ikut mengontrol keputusan lokal. Berdasarkan atas UU SP3K pasal 26 ayat 3, dikatakan bahwa "Penyuluhan dilakukan dengan menggunakan pendekatan partisipatif melalui mekanisme kerja dan metode yang disesuaikan dengan kebutuhan serta kondisi pelaku utama dan pelaku usaha".

Hal-hal yang berkaitan dengan penyusunan PRA antara lain penyuluhan kehutanan, metode, dan teknik penyuluhan seperti demplot, wawancara, anjangsana, pendekatan kelompok dan pendekatan individu. Penyuluh partisipatif merupakan pendekatan penyuluhan dari bawah ke atas (bottom up) untuk memberikan kekuasaan kepada masyarakat agar dapat mandiri, yaitu kekuasaan dalam peran, keahlian, dan sumberdaya untuk mengkaji desanya sehingga tergali potensi yang terkandung, yang dapat diaktualkan, termasuk permasalahan yang ditemukan (Suwandi, 2006). Dengan pelatihan metode penyuluhan kehutanan partisipatif, para penyuluh kahutanan akan termotivasi untuk menggali keberadaan sumber informasi kehutanan setempat yang mudah diakses oleh yang memerlukan, baik penyuluh maupun petani. Pelatihan juga akan mendorong inisiatif positif para penyuluh kehutanan, melalui pendekatan partisipatif untuk mendapatkan solusi permasalahan kehutanan di lapangan.

 

b)      Metode penyuluhan berbasis ICT

Kementerian kehutanan melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM kehutanan pada tahun 2010 melakukan model penyuluhan sebagai upaya pemberdayaan masyarakat melalui cyber extension. Secara singkat dapat dikatakan bahwa cyber extension merupakan sistem informasi penyuluhan kehutanan melalui media internet (berbasis TIK) yang dibangun untuk mendukung penyediaan materi penyuluhan dan informasi kehutanan bagi penyuluh dalam memfasilitasi proses pembelajaran pelaku usaha.

Perkembangan TIK seperti komputer dan teknologi komunikasi, khususnya internet dapat digunakan untuk menjembatani informasi dan pengetahuan yang tersebar di antara yang menguasai informasi dan yang tidak.  Akses terhadap komunikasi digital membantu meningkatkan akses terhadap peluang pendidikan, meningkatkan transparansi dan efisiensi layanan pemerintah, memperbesar partisipasi secara langsung dari ”used-to-be-silent-public” (masyarakat yang tidak mampu berpendapat) dalam proses demokrasi, meningkatkan peluang perdagangan dan pemasaran, memperbesar pemberdayaan masyarakat dengan memberikan suara kepada kelompok yang semula tidak bersuara (perempuan) dan kelompok yang mudah diserang, menciptakan jaringan dan peluang pendapatan untuk wanita, akses terhadap informasi pengobatan untuk masyarakat yang terisolasi dan meningkatkan peluang tenaga kerja (Servaes 2007).

Leeuwis (2004) menyatakan bahwa pesan dan teknologi (inovasi) kehutanan yang dipromosikan oleh agen penyuluhan sering tidak sesuai dan tidak mencukupi.  Hal ini memberikan implikasi bahwa informasi yang ditujukan pada masyarakat dan agen penyuluh sangat terbatas karena beberapa faktor, di antaranya adalah: staf universitas dari disiplin yang berbeda, peneliti yang terlibat, politisi, pengambil kebijakan, agroindustri dan birokrat yang memainkan peranan dalam proses promosi inovasi kehutanan tersebut.  Konsekuensinya, inovasi  yang terpadu hanya dapat diharapkan muncul ketika berbagai aktor, yang dapat mempengaruhi kecukupan pengetahuan dan teknologi, bekerjasama untuk memperbaiki kinerja kolektif.  Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dilakukan upaya untuk memperbaiki fungsi dari sistem pengetahuan dan informasi kehutanan.

 


Minggu, 29 Desember 2019

contoh usulan permohonan bibit kelompok tanike dinas terkait


KELOMPOK TANI HUTAN CAHAYA ENAM BELAS
KECAMATAN PARIGI TENGAH
DESA PELAWA BARU
 



Nomor           :                                                                                      Kepada
                                                                                            
Lampiran       : 1 (satu) Rangkap                                           Yth.  Kepala UPT KPH Dolago
                                                                                                        Tanggunung                                                                                         
Perihal           : Permohonan bibit                                                   di –
                        Kopi dan Pala                                                                  Tempat


                Dengan Hormat
                  
          Dalam rangka mensukseskan Program Pemerintah di bidang Kehutanan (HKM), serta dalam upaya peningkatan tarap hidup Masyrakat diwilayah Pedesaan, Maka kami dari kelompok Tani CAHAYA ENAM BELAS, Desa Pelawa Baru Memohon kepada Bapak Kepala UPT KPH Dolago Tanggunung dalam pengadaan Bibit Kopi dan Pala, Untuk Penanaman jangka pendek Penanaman Hutan Kawasan (HPT) yang Tahun 2019, Agar kiranya Bapak bias Membantu Kelompok kami dalam pengadaan bibit tersebut.
                
          Sebagai bahan pertimbangan, Bersama ini kami lampirkan data anggota kelompok, Besar harapan kami kiranya Bapak dapat mempertimbangkan permohonan ini, atas bantuan Bapak sebelumnya kami ucapkan terima kasih.


                                                                                                     Pelawa Baru,     Oktober 2019
                                                                                                                                                                              
            Menetahui                                                                             Ketua Kelompok Tani
Kepala Desa Pelawa Baru                                                          Cahaya Enam Belas




    Mahmud Lamalanto                                                                          Sarfan


 halaman 2

DAFTAR NAMA-NAMA KELOMPK
CAHAYA ENAM BELAS

 Nama kelompok      : Cahaya enam belas   
 Desa/Kelurahan      :  Pelawa Baru
 Kecamatan              :  Parigi Tengah
 Kabupaten              :  Parigi Moutong

No

NAMA

JABATAN

LUAS LAHAN

TANDA TANGAN
1




2




3




4




5




6




7




8




9




10




11




12




13




14




15







                                                                                                               Pelawa Baru,     Oktober 2019
                                                                                                                                                                               
                                                                                                                     Ketua Kelompok Tani                                                                        
                                                                                                             Cahaya Enam Belas




                                                                                                                       Sarfan



Sabtu, 06 September 2014

dampak akibat pencemaran sungai



jika kita menakar dampak pencemaran sungai, maka pola pandangnya harus menyeluruh. Dimulai dari kesehatan dan tentu saja estetika lingkungan. Dampak dalam lingkup kesehatan tentu sudah jelas. Air sungai yang teremar bisa membawa bermacam-macam penyakit berbahaya misalnya saja mikroba patogenik dan insekta penyebar penyakit.

Sementara itu akibat pencemaran sungai dari estetika lingkungan bisa diamati secara kasat mata. Sungai yang sakit tentu terlihat “merana” dan tidak elok dipandang. Padahal salah satu fungsi sungai adalah sebagai sarana rekreasi manusia. Selain mata, indera penciuman juga akan merasakan dampak dari sungai yang tercemar. Anda tahukan, sampah yang menumpuk terlalu lama akan mengeluarkan aroma kurang sedap.

Nah, dampak ini tentu merugikan. Lantas bagaimana menanggulangi pencemaran sungai ini? Caranya tentu dengan mengupayakan pelestarian DAS atau daerah aliran sungai. Mulailah dari hulu sungai. Sebaiknya pada hulu, pepohonan tidak digunduli agar mencegah terjadinya erosi. Langkah berikutnya adalah dengan
mengubah mindset masyarakat yang beranggapan sungai adalah tempat sampah gratis. Untuk langkah kedua ini diperlukan sinergi semua pemangku kebijakan sebab mindset bukan hal yang sederhana untuk dirubah.
Pencemaran sungai perlu ditanggulangi sedini mungkin agar sungai bisa menjadi sahabat yang menopang kesejahteraan masyarakat. Sungai yang sehat merupakan etalase kepribadian sebuah bangsa. Jadi, jangan berpikir sungai sekedar persoalan sederhana.

jenis-jenis bencana alam dan penyebabnya



a.       Letusan Gunung Api

Letusan gunung api dapat menyemburkan lava, lahar, material-material padat berbagai bentuk dan ukuran, uap panas, serta debu-debu vulkanis. Selain itu, letusan gunung api selalu disertai dengan adanya gempa bumi lokal yang disebut dengan gempa vulkanik. Aliran lava dan uap panas dapat mematikan semua bentuk kehidupan yang dilaluinya, sedangkan aliran lahar dingin dapat menghanyutkan lapisan permukaan tanah dan menimbulkan longsor lahan. Uap belerang yang keluar dari pori-pori tanah dapat mencemari tanah dan air karena dapat meningkatkan kadar asam air dan tanah. Debu-debu vulkanis sangat berbahaya bila terhirup oleh makhluk hidup (khususnya manusia dan hewan), hal ini dikarenakan debu-debu vulkanis mengandung kadar silika (Si) yang sangat tinggi, sedangkan debu-debu vulkanis yang menempel di dedaunan tidak dapat hilang dengan sendirinya. Hal ini menyebabkan tumbuhan tidak bisa melakukan fotosintesis sehingga lambat laun akan mati. Dampak letusan gunung memerlukan waktu bertahun-tahun untuk dapat kembali normal. Lama tidaknya waktu untuk kembali ke kondisi normal tergantung pada kekuatan ledakan dan tingkat kerusakan yang ditimbulkan. Akan tetapi, setelah kembali ke kondisi normal, maka daerah tersebut akan menjadi daerah yang subur karena mengalami proses peremajaan tanah.

b . Gempa Bumi

Gempa bumi adalah getaran yang ditimbulkan karena adanya gerakan endogen. Semakin besar kekuatan gempa, maka akan  menimbulkan kerusakan yang semakin parah di muka bumi. Gempa bumi menyebabkan bangunan-bangunan retak atau hancur, struktur batuan rusak, aliran-aliran sungai bawah tanah terputus, jaringan pipa dan saluran bawah tanah rusak, dan sebagainya. Jika kekuatan gempa bumi melanda lautan, maka akan menimbulkan tsunami, yaitu arus gelombang pasang air laut yang menghempas daratan dengan kecepatan yang sangat tinggi. Masih ingatkah kalian dengan peristiwa tsunami di Nanggroe Aceh Darussalam di penghujung tahun 2004 yang lalu? Contoh peristiwa gempa bumi yang pernah terjadi di Indonesia antara lain gempa bumi yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 di Nanggroe Aceh Darussalam dengan kekuatan 9,0 skala richter. Peristiwa tersebut merupakan gempa paling dasyat yang menelan korban diperkirakan lebih dari 100.000 jiwa. Gempa bumi juga pernah melanda Yogyakarta dan Jawa Tengah pada bulan Mei 2006 dengan kekuatan 5,9 skala richter.

c . Banjir

Banjir merupakan salah satu bentuk fenomena alam yang unik. Dikatakan unik karena banjir dapat terjadi karena murni gejala alam dan dapat juga karena dampak dari ulah manusia sendiri. Banjir dikatakan sebagai gejala alam murni jika kondisi alam memang memengaruhi terjadinya banjir, misalnya hujan yang turun terus menerus, terjadi di daerah basin, dataran rendah, atau di lembah-lembah sungai. Selain itu, banjir dapat juga disebabkan karena ulah manusia, misalnya karena penggundulan hutan di kawasan resapan, timbunan sampah yang menyumbat aliran air, ataupun karena rusaknya dam atau pintu pengendali aliran air. Kerugian yang ditimbulkan akibat banjir, antara lain, hilangnya lapisan permukaan tanah yang subur karena tererosi aliran air, rusaknya tanaman, dan rusaknya berbagai bangunan hasil budidaya manusia. Bencana banjir merupakan salah satu bencana alam yang hampir setiap musim penghujan melanda di beberapa wilayah di Indonesia. Contoh daerah di Indonesia yang sering dilanda banjir adalah Jakarta. Selain itu beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada awal tahun 2008 juga dilanda banjir akibat meluapnya DAS Bengawan Solo.

d . Tanah Longsor

Karakteristik tanah longsor hampir sama dengan karakteristik banjir. Bencana alam ini dapat terjadi karena proses alam ataupun karena dampak kecerobohan manusia. Bencana alam ini dapat merusak struktur tanah, merusak lahan pertanian, pemukiman, sarana dan prasarana penduduk serta berbagai bangunan lainnya. Peristiwa tanah longsor pada umumnya melanda beberapa wilayah Indonesia yang memiliki topografi agak miring atau berlereng curam. Sebagai contoh, peristiwa tanah longsor pernah melanda daerah Karanganyar (Jawa Tengah) pada bulan Desember 2007

e . Badai/Angin Topan 

Angin topan terjadi karena perbedaan tekanan udara yang sangat mencolok di suatu daerah sehingga menyebabkan angin bertiup lebih kencang. Di beberapa belahan dunia, bahkan sering terjadi pusaran angin. Bencana alam ini pada umumnya merusakkan berbagai tumbuhan, memorakporandakan berbagai bangunan, sarana infrastruktur dan dapat membahayakan penerbangan. Badai atau angin topan sering melanda beberapa daerah tropis di dunia termasuk Indonesia. Beberapa daerah di Indonesia pernah dilanda gejala alam ini. Salah satu contoh adalah angin topan yang melanda beberapa daerah di Yogyakarta dan Jawa Tengah.

f . Kemarau Panjang

Bencana alam ini merupakan kebalikan dari bencana banjir. Bencana ini terjadi karena adanya penyimpangan iklim yang terjadi di suatu daerah sehingga musim kemarau terjadi lebih lama dari biasanya. Bencana ini menimbulkan berbagai kerugian, seperti mengeringnya sungai dan sumber-sumber air, munculnya titik-titik api penyebab kebakaran hutan, dan menggagalkan berbagai upaya pertanian yang diusahakan penduduk.