KEBUN JATI

Terletak di Desa Talaga Kecamatan Dampelas, dengan Luas 7 ha.

PANTAI BAMBARANO

Pantai berkarang indah ini terletak di Desa Sabang kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala.

JEMBATAN PONULELE

Jembatan Kebanggan warga Palu ini berada diwilayah pantai talise menuju arah donggala.

TANJUNG KARANG

salah satu objek wisata pantai, yang terletak di ujung pantai Donggala, dengan suasana pantai yang terasa nyaman.

situs Tadulako dan Pokekea

situs sejarah ini berada di lembah Besoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah..

Kamis, 30 Mei 2013

solusi guna mencegah penebangan hutan


Hutan-hutan Indonesia menghadapi masa depan yang suram. Walau negara tersebut memiliki 400 daerah yang dilindungi, namun kesucian dari kekayaan alam ini seperti tidak ada. Dengan kehidupan alam liar, hutan, tebing karang, atraksi kultural, dan laut yang hangat, Indonesia memiliki potensi yang luar biasa untuk eko-turisme, namun sampai saat ini kebanyakan pariwisata terfokus pada sekedar liburan di pantai. Sex-tourism merupakan masalah di beberapa bagian negara, dan pariwisata itu sendiri telah menyebabkan permasalahan-permasalahan sosial dan lingkungan hidup, mulai dari pembukaan hutan, penataan bakau, polusi.
Melihat dampak dari penebangan hutan secara liar tersebut,maka perlu adanya suatu cara untuk mencegah terjadinya hal tersebut. Dalam hal ini, penulis ingin memberikan kontribusi dalam menyikapi adanya penebangan hutan tersebut dengan cara pendekatan secara neo-humanis. Di bawah ini akan diuraikan beberapa pendekatan neo-humanis dalam mencegah dan mengurangi terjadinya penebangan hutan secara liar :
1. Penduduk lokal biasanya bergantung pada penebangan hutan di hutan hujan untuk kayu bakar dan bahan bangunan. Pada masa lalu, praktek-praktek semacam itu biasanya tidak terlalu merusak ekosistem. Bagaimanapun, saat ini wilayah dengan populasi manusia yang besar, curamnya peningkatan jumlah orang yang menebangi pohon di suatu wilayah hutan hujan bisa jadi sangat merusak. Sebagai contoh, beberapa wilayah di hutan-hutan di sekitar kamp-kamp pengungsian di Afrika Tengah (Rwanda dan Congo) benar-benar telah kehilangan seluruh pohonnya. Oleh karena itu, perlu adanya bimbingan dan penyuluhan kepada penduduk setempat tentang betapa pentingnya keberadaan hutan bagi kehidupan semua umat.

2. Dalam hal penebangan hutan secara konservatif, denagn cara menebang pohon yang sudah tidak berproduktif lagi. Jangan sampai pohon yang masih muda dan masih berproduktif ditebang. Selain itu, sebaiknya masyarakat sekitar perlu diberi arahan dalam penebangan pohon, di antaranya larangan untuk menebang pohon yang sebagai plasa nutfah. Selanjutnya, setiap menebang satu pohon, harus seerag menaggabti denagn menamam pohon kembali sebanyak satu pohon.

3. Melakukan pembenahan terhadap sistem hukum yang mengatur tentang pengelolaan hutan menuju sistem hukum yang responsif yang didasari prinsip-prinsip keterpaduan, pengakuan hak-hak asasi manusia, serta keseimbangan ekologis, ekonomis, dan pendekatan neo-humanisme.


4. Selanjutnya perlu adanya suatu program peningkatan peranan masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian hutan. Tujuan dari program ini adalah untuk meningkatkan peranan dan kepedulian pihak-pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup. Dalam upaya pemberdayaan masyarakat lokal harus diselenggarakan dan difasilitasi berbagai pelatihan untuk meningkatkan kepedulian lingkungan di kalangan masyarakat, seperti pelatihan pengendalian kerusakan hutan bagi masyarakat dan pelatihan lingkungan hidup untuk para tokoh dalam masyarakat.

5. Melalui pendekatan neo-humanisme ini, juga perlu dibentuk suatu kelompok peduli hutan dalam masyarakat yang bertugas memantau keadaan hutan di sekitarnya dan melakukan pelestarian hutan, kemudian menularkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh dari berbagai pelatihan manajerial kehutanan kepada masyrakat di sekitarnya, sehingga nantinya akan ada rasa saling memiliki dengan adanya keberadaan hutan tersebut.

6. Melakukan program reboisasi secara rutin dan pemantauan tiap bulannya dengan dikoordinir oleh tokoh-tokoh masyarkat setempat. Dengan adanya pemantauan tersebut, maka hasil kerja keras dari reboisasi yang telah dilaksanakan akan tetap terpantau secara rutin mengenai perkembanganya dan potensi ke depannya.

7. Selain itu, perlu adanya inovasi pelatihan keterampilan kerja di masyarakat secara gratis dan rutin dari pihak-pihak yang terkait, seperti Dinas Tenaga Kerja,dll, sehingga masyarakat tidak hanya bergantung pada hasil hutan saja, tetapi dapat mengembangkan keterampilan-keterampilan dimilikinya.

daftar pustaka peranan masyarakat sekitar hutan


DAFTAR PUSTAKA
Arief, A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta
Balai TNGL. 2006. Renstra Pengelolaan TNGL. File. Tidak Diterbitkan. Medan
Balai TNGL. 2008. Pengungsi TNGL. File. Tidak Diterbitkan. Medan
Darusman, D dan Didik, S. 1998. Kehutanan Masyarakat. Penerbit IPB dan The Ford Fundation. Bogor
Departemen Kehutanan. 1986. Buku Informasi Taman Nasional Indonesia. Bogor
Direktorat Jenderal PHPA. Direktorat Taman Nasional dan Hutan Wisata. Departemen Kehutanan Bogor. Bogor
Departemen Kehutanan. 2006. Info Sosial Ekonomi. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Pusat Penelitian Sosial Ekonomi dan Kebijakan Kehutanan. Bogor
Dephut. 2007. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.33/Menhut-II/2007. Dari http://www.dephut.go.id (24 Desember 2008)
FWI dan GFW. 2001. Potret Keadaan Hutan Indonesia. Bogor. Indonesia: Forest Watch Indonesia dan Washington D.C: Global Forest Watch
Hairiah, K. dkk. 2003. Pengantar Agroforestri. World Agroforestry Centre (ICRAF), Bogor
Irjayani, I.K, 2000. Tinjauan Beberapa Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat. Dari http://www.dephut.go.id/files/Berbasis_Masy.pdf. ( 24 Februari 2008)
Kotijah, S. 2006. Masyarakat Lokal dalam Sistem Sertifikasi Hutan di Indonesia.
Darihttp://www.dephut.go.id/Halaman/STANDARDISASI_&_LINGKU GAN_KEHUTANAN/info_5_1_0604/isi_3.htm. (22 Februari 2009)
Lahjie, A.M., 2001. Teknik Agroforestri. UPN “Veteran” Jakarta (Grafika-UPNJ).
Mantra IB. 2004. Demografi Umum. Pustaka Pelajar: Yogyakarta
Marnaek, R.H. 2005. Pengaruh Kondisi Sosial Ekonomi Masyrakat Terhadap Perilaku Pemanfaatan Hutan Mangrove di Desa Kayu Besar, Kecamatan Bandar Khalifah, Kab.Sergai, Skripsi. USU. Medan
Mubyarto. 1991. Hutan, Perladangan dan Pertanian Masa Depan. PT. Aditya Media. Yogyakarta
Noordwijk, M.V. et.al., 2003. Agroforestry is a Form of Sustainable Forest Management : Lessons From South East Asia. For delivey at : UNFF Intersessional Experts Meeting on the Role of Planted Forests in Sustainable Forest Management Conference, 24-28 March 2003, Wellington, New Zealand
Pristiyanto, D. 2005. Taman Nasional menurut Ditjen PHKA. Dari http://www.ditjenphka.go.id/kawasan/tn.php. (22 Februari 2009)
Rangkuti, F. 1997. Analisis SWOT Teknik Membedah Kasus Bisnis. PT. Gramedia Pustaka Umum. Jakarta
Rauf, A. 2001. Kajian Sosial Ekonomi Sistem Agroforestry di Kawasan Penyangga Ekosistem Leuser. Dalam Supriyono, Djoko dan Parjanto. Pendidikan Agroforestry Sebagai Strategi Menghadapi Pemanasan Global. Universitas Sebelas Maret. Surakarta. Hal.: 173-180
Riduwan. 2005. Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian. Cetakan ke-3. Penerbit alfabeta. Bandung.
Soeroto, M. A. 1983. Strategi Pembangunan dan Perencanaan Tenaga Kerja. Gadjah Mada university Press. Yogyakarta
Suhardono, E. 2001. Panorama Survey. Gramedia Pustaka. Surabaya
Suparmoko, M. 2000. Ekonomi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Suatu Pendekatan Teoritis. Edisi Ketiga. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta
Waruwu, F. A. 1984. Kesadaran Hukum Masyarakat Membantu Usaha Pelestarian Lingkungan. Duta Rimba No. 56. Perum Perhutani

materi tentang pemanfaatan tumbuhan


Bahan pangan
Tercatat sebanyak 46 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai bahan pangan di antaranya adalah mangga (Mangifera indica), kedondong (Spondias dulcis), durian (Durio zibethinus), durian belanda (Annona muricata), nanas (Ananas comosus), manggis (Garcinia mangostana), semangka (Citrulus vulgaris), labu (Cucurbita moschata), petai (Parkia speciosa), jengkol (Pithecelobium lobatum), kelapa (Cocos nucifera), nangka (Artocarpus heterophyllus), tebu (Saccharum officinarum), kapuk (Ceiba petandra), rambutan (Nephelium lappaceum), jeruk nipis (Citrus nobilis), jambu air (Syzygium aquaeum), belimbing manis (Averrhoa carambola), jambu biji (Psidium guajava), dan kluwih (Artocarpus communis). Tanaman lain yang merupakan penghasil karbohidrat di antaranya adalah: ubi kayu (Manihot utilissima), keladi (Colocasia esculenta), dan ubi jalar (Ipomoea batatas).
Bahan obat-obatan
Meskipun sudah ada Puskesmas, namun masyarakat di daerah penelitian masih menggunakan pengobatan tradisional dengan memanfaatkan tumbuhan untuk mengobati berbagai macam penyakit. Tercatat 69 jenis tumbuhan yang dimanfaatkan sebagai obat tradisional.
Sebagai obat mencret mereka memanfaatkan daun muda dan buah delima beras (Psidium guajava) dimakan segar. Sifat dan khasiat dari buah tersebut yaitu mempunai daun yang rasanya manis, sifatnya netral, berkhasiat astringen, antidiare, antiradang, penghenti perdarahan (hemostatis), dan peluruh haid. Buahnya berkhasiat antioksidan karena mengandung beta karoten dan vitamin C yang tinggi sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh (Dalimartha, 2000). Selain delima beras, sering juga memanfaatkan biji buah pinang yang tua (Areca catechu) dibakar dan dicampur dengan kunyit (Curcuma longa) kemudian digiling ditambah air panas, air perasannya diminum. Bisa juga memakai daun sugourimau (Hyptis capitata) diremas ditambah abu dapur dan garam sedikit kemudian dimakan.
Terdapat tumbuhan penghasil minyak atsiri yaitu nilam (Pogostemon cablin) yang ditumpangsarikan dengan tanaman-tanaman lain seperti cabe, kemiri, pisang, pinang, kacang panjang, pepaya dan lain-lain. Minyak nilam diperoleh melalui proses penyulingan dan dimanfaatkan sebagai bahan kosmetik

Dampak Pengurangan Keanekaragaman Hayati terhadap hutan


Dampak langsung dari kerusakan hutan-hutan di dunia, yaitu banyaknya jenis-jenis kekayaan hayati dalam ekosistem hutan tersebut yang telah berkurang, bahkan telah musnah bersama hilangnya tegakan hutan. Disamping akibat kerusakan hutan, kelangkaan jenis hayati, sumberdaya genetis, dan plasma nutfah juga banyak disebabkan oleh eksploitasi berlebihan terhadap jenis-jenis hayati (tumbuhan dan hewan), fragmentasi habitat, dan akibat proses hibridisasi jenis yang tidak melestarikan genetik asli.
Kegiatan eksploitasi, fragmentasi, dan hibridisasi ternyata telah memicu proses kelangkaan dan musnahnya berbagai jenis hayati di bumi. Laporan dari WWF sebanyak 15 – 20 % dari seluruh spesies makhluk hidup akan punah pada tahun 2000. Dan laporan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources), telah diidentifikasi ada 20 spesies tumbuhan dan 89 spesies hewan terancam punah d wilayah hutan bakau, serta tiga perempat dari 900 jenis burung di bumi telah langka dan terancam punah. Data FAO menyatakan 4 dari 17 wilayah penangkapan ikan di dunia telah dikuras populasinya, diantaranya menyebabkan ikan tuna sirip biru di wlaiayah Atlantik telah menyusut 94 % dari jumlah sebelumnya.
Memperhatikan ancaman dari kepunahan berbagai organisma, IUCN telah menyusun daftar spesies organisma langka dan sangat langka pada berbagai wilayah di dunia, yaitu kelompok binatang menyusui 145 spesies, kelompok burung 437 spesies, kelompok ampibi dan reptil 69 spesies, invertebrata lebih 400 spesies, dan kelompok tumbuhan 250 spesies.

Menjaga Keutuhan Hutan dengan Berbagai Sistem


Hutan merupakan sumber daya alam hayati yang peranannya sangat vital dalam sendi-sendi kehidupan. Baik di Indonesia maupun dunia, semua mengakui jika vitalitas hutan betul-betul signifikan. Dimulai dari yang paling vital namun sederhana, ialah peranannya dalam menyuplai oksigen ke seluruh biosfer. banyak cara menjaga keutuhan hutan tanpa merusak apa yang ada di dalamnya termasuk tumbuhan dan hewan. Masyarakat sekitar hutan tetap bisa memanfaatkan keberadaan hutan untuk menambah penghasilan. masyarakat dapat melakukan dengan sistem Agroforestry Tipe Agrosilvikultur atau merupakan kombinasi tanaman hutan dengan tanaman pangan, buah dan tanaman perkebunan seperti karet, damar dan aren.
Agroforestry merupakan teknologi kombinasi agrikultur/pertanian dan kehutanan untuk menciptakan lahan secara integral, produktif dan menggunakan sistem yang berbeda (Garrett at el. 2000). Agroforestry mempunyai kemampuan untuk menyediakan manfaat ekonomi jangka pendek; pada saat petani menunggu hasil kehutanan tradisional yang jangka waktunya relatif panjang. Sebagai contoh dari sistem agroforestry adalah penanaman tanaman penyangga di tepi sungai yang dapat memperkecil pengaruh banjir dan melindungi kualitas air, menyediakan habitat satwa liar, kesempatan/peluang untuk rekreasi dan memproduksi sesuatu yang bisa dipanen, seperti biji-bijian yang dapat dimakan dan tumbuh-tumbuhan untuk obat-obatan.
Ludgren dan Raintree, 1982 mendefinisikan Agroforestry sebagai nama kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi pengelolaan lahan dimana tanaman berkayu (pohon, semak belukar, palma, bambu dst.) dan tanaman pertanian ditanam pada suatu unit manajemen lahan baik melalui pengaturan ruang (jarak tanam) maupun pengaturan waktu (pergiliran, daur). Dalam sistem agroforestry senantiasa ada interaksi ekologis dan ekonomi di antara komponen-komponen yang berbeda.
Budowski (1981) dalam Lahjie, A.M (2001) menjelaskan beberapa keuntungan Agroforestry antara lain :
Manfaat Lingkungan/ekologi :
  1. Pengurangan tekanan terhadap hutan
  2. Daur ulang usnur hara yang cukup efisien pada lahan oleh pohon-pohon yang mempunyai perakaran dalam
  3. Perlindungan yang lebih baik bagi sistem ekologi
  4. Pengurangan aliran permukaan, pencucian unsur hara dan erosi tanah melalui efek rintangan yang dihasilkan oleh akar-akar dan batang pohon pada proses-proses tersebut
  5. Perbaikan iklim mikro, seperti penurunan suhu permukaan tanah dan pengurangan penguapan kelembaban tanah melalui pemulsaan dan penaungan oleh pohon
  6. Peningkatan unsur hara tanah melalui penambahan dan dekomposisi seresah yang jatuh
  7. Perbaikan struktur tanah melalui penambahan bahan organik secara tetap dari seresah yang terdekomposisi
Manfaat Ekonomi
  1. Peningkatan kesinambungan hasil-hasil pangan, kayu bakar, pakan ternak, pupuk dan kayu pertukangan serta protein dari satwa liar yang ada di dalamnya
  2. Mengurangi terjadinya kegagalan total tanaman pertanian, yang biasa terjadi pada tanaman monokultur; dan
  3. Meningkatkan jumlah pendapatan pertanian karena peningkatan produktifitas dan kesinambungan produksi
  4. Terdapat lebih banyak fleksibilitas untuk mendistribusikan kegiatan kerja sepanjang tahun
  5. Kehadiran pepohonan dapat mengurangi biaya penyiangan
  6.  Investasi ekonomi untuk melakukan penanaman pohon dapat dikurangi karena diperoleh keuntungan dari tanaman pangan musiman pada tahap awal pertumbuhan pohon.
  7. Para petani dapat memperoleh manfaat ekonomi langsung yang berasal dari pepohonan untuk memenuhi kebutuhan mereka akan kayu bakar, kayu pertukangan, buah-buahan, pakan ternak, hasil obat-obatan, dll
  8. Tanaman kayu-kayuan dapat dijadikan jaminan dan dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan pada keadaan mendesak atau pada saat diperlukan
Manfaat Sosial
  1. Peningkatan standar kehidupan di pedesaan melalui penyediaan lapangan kerja yang berkelanjutan dan pendapatan yang lebih tinggi
  2. Peningkatan gizi dan kesehatan karena meningkatnya kualitas dan keanekaragaman hasil pangan; dan
  3. Stabilitas dan peningkatan pada masyarakat dataran tinggi dengan menghapuskan kebutuhan untuk memindahkan ladang dalam kegiatan pertanian
Keberadaan hutan memang menjadi sangat penting untuk kebutuhan masyarakat. Banyak jasa yang diberikan hutan yang dapat dimanfaatkan, seperti jasa yang diberikan oleh ekosistem hutan yang nilai dan manfaatnya dapat dirasakan langsung maupun tidak langsung oleh stakeholders. Dari wisata alam/rekreasi, perlindungan system hidrologi, kesuburan tanah, pengendalian erosi dan banjir, keindahan, keunikan, kenyamanan serta pendidikan, penelitian dan pengembangan. Pemanfaatan jasa lingkungan ini merupakan kegiatan bisnis (usaha) yang tidak merusak/mengurangi fungsi pokok ekosistem hutan dari usaha rekreasi hutan (wisata alam), usaha olahraga tantangan, usaha pemanfaatan air, usaha carbon trade serta usaha penyelamatan hutan dan lingkungan (penangkaran
bibit, fauna dan flora).
Leuserwebfinish (2006), menambahkan bahwa dampak perambahan hutan tersebut menyebabkan terganggunya suplai air untuk kebutuhan air minum atau pertanian, selain itu ekosistem satwa akan terganggu dan akan mengakibatkan konflik antara satwa dan manusia, hal itu pasti akan menimbulkan akibat bagi masyarakat, baik masyarakat sekitar kawasan hutan maupun masyarakat yang bergantung pada kelestarian kawasan tersebut.

tinjauan pustaka tentang anatomi tulang dan kerangka


Anatomi berasal dari bahasa latin yaitu , Ana : Bagian, Memisahkan.Tomi (tomie) = Tomneinei : iris / potong.Fisiologi berasal dari kata Fisis (physis) : Alam atau cara kerja .Logos (logi) : ilmu  pengetahuan.Dari kata tersebut di atas dapat di simplksn bahwa pengertian anatomi dan fisiologi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang susunan atau potongan tubuh dan bagaimana alat tubuh itu bekerja.Anatomi adalah ilmu yang mempelajari bentuk dan susunan tubuh dengan baik secara keseluruhan maupun bagian – bagian serta hubungan alat tubuh yang satu dengan yang lain.Fisiologi adalah ilmu yang mempelajari faal atau pekerjaan dari tiap – tiap jaringan tubuh atau bagian dari alat – alat tubuh dan sebagainya.
Sistem muskuloskeletal merupakan penunjang bentuk tubuh dan mengukur pergerakan.Tulang manusia saling berhubungan satu dengan yang lain dalam berbagai bentuk untuk memperoleh fungsi system muskuloskeletal yang optimum. Aktivitas gerak tubuh manusia tergantung pada efektifnya interaksi antara sendi yang normal unit-unit neuromuskular yang menggerakkannya. Elemen-elemen tersebut juga berinteraksi untuk mendistribusikan stress mekanik ke jaringan sekitar sendi. Otot, ligamen, rawan sendi dan tulang saling bekerjasama dibawah kendali sistem saraf agar fungsi tersebut dapat berlangsung dengan sempurna
Mempelajari Sistem Kerangka & Otot Kerangka.  Osteologi : cabang ilmu anatomi yang mempelajari tulang. Tulang atau rangka adalah penopang tubuh manusia.
Tanpa tulang, pasti tubuh kita tidak bisa tegak berdiri. Tulang mulai terbentuk sejak bayi dalam kandungan, berlangsung terus sampai dekade kedua dalam susunan yang teratur.
Mengapa kita bisa bergerak? Manusia bisa bergerak karena ada rangka dan otot. Rangka tersebut tidak dapat bergerak sendiri, melainkan dibantu oleh otot. Dengan adanya kerja sama antara rangka dan otot, manusia dapat melompat, berjalan, bergoyang, berlari, dan sebagainya.
Sistem muskuloskeletal merupakan suatu system yang dibentuk oleh tulang, sendi dan otot.
Tulang (system skelet)

Rabu, 29 Mei 2013

jurnal Motivasi Masyarakat Terhadap Persiapan Penerapan Program REDD+ (Studi Kasus Desa Lembah Mukti, Kecamatan Damsol, Kabupaten Donggala)

Motivasi Masyarakat Terhadap Persiapan Penerapan Program REDD+
(Studi Kasus Desa Lembah Mukti, Kecamatan Damsol, Kabupaten Donggala)


Abd Samad1), Golar2), Rukmi3)

Fakultas Kehutanan, Universitas Tadulako
Palu, Sulawesi Tengah 94112
Telp +62451-422611 Fax: 0451- 422844


Abstract

Goverment as the policy holder, is responsible for the utilization of forest resources keeping it sustainable. Goverment efforts to regulate forest use, the policy background for the emergence of a varleti of patterns to support administration of the forest, of the pattren projets sentralized, desentralized to the policy that is being the policy is curently being developed by working with utilization of REDD+. To achieve sustainable forest management the held a REDD+ project, in order to reduc emisson from deforestation forest. Until now the REDD+ project a positive because of the REDD+ program as the managed forest directly by the people that can drives the economy trough the forest communities in developing REDD+ projects. The purpose of the study was to determine the motivation communities in estabilising REDD+, and determine the factor that drive inisiatif dominant community in the development of REDD+. Data collection techniques used consisted of lierature  studies and indepth interviws. Literature study is used to illustrate  the development of impelementing  policies related to REDD+ within a certain time frame. While indep interviws are used to collect information about the motivation of respondens to plan the impelementation of REDD+ pilot implementation. Furtermore, the data is processed by deskrip tive analysis is used to discuss the data and information about public knowledge of  the functons and benefits of REDD+ and motivation in preparation for REDD+. Result of this study is preparation of the implementation of REDD+ Lembah Mukti village comes from community initiatives. Motivation of Lembah Mukti village  community to prepare the implementation of  REDD+ is social motivation, economic, and ecological. Dominant factor that drives people Lembah Mukti village  with a selection of the most motivation is social motivation, and economic, while the choice of the least motivation is motivation ecology.














1.        Pendahuluan

1.1.      Latar Belakang
Meningkatnya suhu permukaan bumi akan mengakibatkan adanya perubahan iklim yang sangat ekstrem. Hal ini dapat mengakibatkan terganggunya hutan dan ekosistem lainnya, sehingga mengurangi kemampuannya untuk menyerap karbon dioksida di atmosfer. Berbagai dampak ini tidak saja merusak kualitas lingkungan, akan tetapi juga membahayakan kesehatan manusia, keamanan pangan, kegiatan pembangunan ekonomi, pengelolaan sumber daya alam, dan infa struktur. Fenomena ini telah menjadi perhatian bebagai pihak baik ditingkat global, nasional, maupun lokal. Dampak yang ditimbulkan oleh fenomena ini mendorong komunitas internasional untuk mengatasi penyebabnya. Salah satu upaya untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan adanya program REDD+ (Rachmat.M,2009).
Gagasan utama REDD+ diterima di Indonesia karena selain mengurangi emisi gas rumah kaca dengan cara mengurangi laju deforestasi, mengurangi degradasi hutan, menjaga ketersediaan karbon, dan meningkatkan stok karbon hutan, REDD+ juga tidak pengganggu target pertumbuhan ekonomi lokal dan nasional.  Hasil positif lain yang diperoleh adalah terjaganya keanekaragaman hayati dan pembangunan berkelanjutan serta mengurangan kemiskinan dan penguatan hak-hak masyarakat adat/lokal, maka, jika dirancang dengan benar REDD+ dapat menghasilkan tiga keuntungan yaitu: dari sisi Ekonomi Ekologi dan sosial (Suprianto dan Solihat.A, 2012).
Sejak penandatanganan Lol, Indonesia telah banyak membuat kemajuan dalam persiapan pelaksanaan REDD+. Salah satunya adalah dengan adanya program UN-REDD. Tujuan dari program UN-REDD adalah membantu pemerintah Indonesia  agar lebih siap dalam menyongsong implementasi mekanisme REDD+ pada pasca tahun 2012. Pemilihan Provinsi  percontohan di lakukan oleh UN-REDD program Indonesia berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan (Novanto dan Zaenal 2012).
Perlindungan atas sumberdaya hutan menjadi semakin penting, dan ini mungkin dapat digalakkan melalui perlindungan dan perhatian kepada hutan-hutan yang melingkupi gunung, mempengaruhi tata air dan memperbaiki lingkungan.  Batas konsesi hutan yang tidak ditetapkan dengan baik, serta kejelasan hak dan batas-batas hutan yang hilang menciptakan kemungkinan untuk kekewatiran masyarakat dalam kebijakan pemerintah perizinan proyek REDD+.
Desa Lemba Mukti adalah salah satu tempat percobaan dalam penerapan REDD+ saat ini, setelah sosialisasi dan penerapan FPIC (Free Prior Informed Consent) dilaksanakan oleh Pokja REDD+, Masyarakat Desa Lembah Mukti menyatakan siap untuk dijadikan sebagai lokasi proyek REDD+. Hal ini menimbulkan respon berbagai pihak bukan saja pihak penyandang dana program, namun juga lembaga swadaya dan peneliti atas dasar hal tersebut, peneliti ingin mengkaji motivasi masyarakat dalam menerima program persiapan penerapan REDD+, di Desa Lembah Mukti.
1.2.      Rumusan Masalah
Desa Lembah Mukti merupakan salah satu Desa yang terpilih sebagai lokasi uji coba program penerapan REDD+ di Sulawesi Tengah. Sebelum Desa ini ditetapkan, maka dilakukan sosialisasi dan pelaksanaan FPIC oleh tim pokja REDD+ sulawesi tengah. Berbeda dengan Desa lainya, di Lembah Mukti proses ini berlangsung sangat cepat, yang menimbulkan kesan premature artinya, ada hal-hal tertentu diduga memotivasi masyarakat untuk segera menerima tawaran program tersebut.  Meskipun telah dilkukan FPIC, namun perlu dikaji apa motivasi mereka menerima program ini.
Berdasarkan uraian di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:
1.      Bagaimana motivasi masyarakat Desa Lemba Mukti dalam persiapan penerapan program REDD+.
2.       Faktor dominan apa saja yang mendorong inisiatif masyarakat dalam pengembangan REDD+.
1.3.      Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui motivasi masyarakat dalam uji coba penerapan REDD+, dan untuk mengetahui faktor dominan yang mendorong inisiatif masyarakat menerima program tersebut.   Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk memberi informasi mengenai  motivasi masyarakat dalam menerapkan uji coba persiapan REDD+, dan untuk mengetahui faktor dominan yang mendorong inisitaf masyarakat tersebut sehingga dapat menjadi suatu masukan bagi instansi terkait penerapan program REDD+ ke depannya.






















I.      MATERI DAN METODE PENELITIAN

3.1.      Waktu dan Tempat
            Penelitian ini dilaksanakan selama tiga bulan, yakni pada bulan Desember 201 sampai Januari 2013. Lokasi penelitian di Desa Lembah Mukti, Kecamatan Damsol, Kabupaten Donggala, Sulawasi Tengah Palu.
3.2.      Alat dan Bahan
Alat dan Bahan penelitian yang akan digunakan adalah sebagai berikut :
1.      Alat tulis menulis, digunakan untuk mencatat data.
2.      Kamera digunakan untuk pengambilan dokumentasi di lapangan,
3.      Kuisioner, sebagai alat bantu dalam pelaksanaan wawancara.
4.      Leptop, digunakan untuk mengolah data.
5.      Printer, digunakan untuk mencetak peta dan laporan hasil lapangan.
3.3.      Metode Penelitian
            Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Metode ini digunakan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang didaptkan oleh peneliti, Fenomena tersebut adalah sumber informasi yang didapatkan oleh masyarakat tentang REDD+, motivasi masyarakat terhadap persiapan implementasi REDD+ dan faktor dominan yang mendorong inisiatif masyarakat terhadap implementasi REDD+.
Menurut Sukmadinata, 2006 Penelitian deskriptif adalah suatu bentuk penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena yang ada. Fenomena itu bisa berupa bentuk, aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan, dan perbedaan antara fenomena yang satu dengan fenomena lainnya.
3.3.1.   Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini ada dua macam yaitu data primer dan data sekunder.
1.        Data primer
Data primer yaitu data yang diperoleh dari masyarakat Desa Lembah Mukti secara langsung, baik dengan cara pengamatan atau observasi maupun wawancara. Data yang diambil antara lain: Identitas responden, pemahaman masyarakat tentang REDD+, persepsi masyarakat tentang program REDD+, motivasi masyarakat terhadap persiapan penerapan REDD+ dan faktor dominan yang mendorong inisiatif masyarakat terhadap implementasi REDD+.
2.      Data sekunder
Data sekunder adalah data-data yang mendukung data utama antara lain: Gambaran umum lokasi, makalah dan laporan yang berkaitan dengan motivasi masyarakat terhadap pengembangan REDD+, dan penelusuran internet, dalam hal ini data yang mendukung dalam penulisan skripsi.

3.3.2.   Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan terdiri atas studi literatur dan  wawancara mendalam. Studi literatur digunakan untuk menggambarkan perkembangan implementasi Kebijakan yang terkait dengan REDD+. Sedangkan wawancara mendalam (Indepth interview) digunakan untuk menggali informasi tentang motivasi responden terhadap rencana penerapan uji coba penerapan REDD+.
Penentuan responden dilakukan dengan cara Purposive Sampling, yaitu responden dipilih dengan cermat dan diusahakan dapat mewakili seluruh lapisan masyarakat, Dalam Penelitian kualitatif  tidak dipersoalkan jumlah responden, dalam hal ini penentuan jumlah responden sedikit atau banyak tergantung pada tepat atau tidaknya (Burhan, 2002).
3.3.3.   Analisis Data
Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, digunakan untuk membahas data dan informasi tentang pengetahuan masyarakat terhadap fungsi dan manfaat REDD+, motivasi  masyarakat terhadap implementasi uji coba   REDD+, dan faktor dominan yang mendorong inisiatif masyarakat terhadap REDD+.

Masyarakat Desa Lemba Mukti
3.4.   Bagan Alir Penelitian

 

                                            ....     Kriteria
Responden (30 orang)
(Inisiator, Toko Masyarakat Dan Masyarakat Biasa)
 



1.       Pengetahuan
2.       motivasi masyarakat

                                              ... Wawancara Mendalam

 

Faktor-Faktor Pendorong                       
                                                 ...  Kuisioner


                                                                   
Motivasi Masyarakat Dalam Persiapan Penerapan  REDD+ Di Desa Lemba Mukti
                                               
                                                                        ... . Analisis Deskriptif Kualitatif

Gambar 1. Bagan Alir Penelitian

V.    HASIL DAN PEMBAHASAN

5.1.            Proses Sosialisasi REDD+ di Desa Lembah Mukti
REDD+ merupakan salah satu proyek pengelolaan hutan dengan tujuan mengurangi emisi akibat deforestasi dan degradasi hutan yang dikelola langsung oleh masyarakat dan difasilitasi oleh pmerintah melalui program proyek UN-REDD+.
Penunjukan Sulawesi Tengah sebagai salah satu percontohan program UN-REDD+ didasari atas serangkaian kriteria seleksi: (1) masih ada deforestasi namun tutupan lahan masih relative baik; (2) kepadatan karbon yang relative tinggi; (3) dukungan politik daerah yang kuat; (4) kapasitas daerah yang cukup kuat untuk mendorong tercapainya hasil yang cepat; (5) penyebab deforestasi dapat dikenali dengan mudah; (6) REDD+ di wilayah ini dapat menghasilkan manfaat yang signifikan; (7) referensi pemerintah; (8) serta belum adanya inisiatif REDD+ lainnya di wilayah Sulawesi Tengah.
 Pelaksanaan REDD+ diwadahi dalam lima bentuk kegiatan utama yaitu: mengurangi laju deforestasi, mengurangi degradasi hutan, menjaga ketersediaan karbon melalui konservasi hutan, menerapkan sustainable forest management, dan meningkatkan stock karbon hutan.
 Sulawesi Tengah dipilih untuk menjadi Propinsi Contoh dalam pelaksanaan kegiatan UN-REDD+ di mana salah satunya adalah untuk mendukung pengembangan panduan pelaksanaan social safeguards sebagai bagian dari pengembangan kesiapan atau readiness REDD+. Kegiatan ini dilaksanakan bersama-sama dengan Kelompok Kerja REDD+ (Pokja REDD+) Provinsi Sulawesi Tengah. Sejak pembentukannya pada 18 Februari 2011, melalui Surat Keputusan (SK) Gubernur Sulawesi Tengah No. 522/84/Dishutda – G.ST/2011 tentang Pembentukan tugas-tugas pokja REDD+, kelompok kerja ini secara aktif telah memprakarsai pengembangan panduan tentang Free, Prior, Informed, Consent (FPIC) sebagai social safeguards yang akan digunakan dalam implementasi program REDD+ di Sulawesi Tengah. Panduan FPIC ini dikembangkan oleh Pokja IV bidang FPIC dan pemberdayaan dan pengembangan kapasitas daerah dan masyarakat, salah satu bidang di dalam kelompok kerja REDD+ Provinsi Sulawesi Tengah.
Dengan merujuk pada panduan tersebut, upaya perintisan FPIC diujicobakan di lokasi-lokasi yang telah ditetapkan bersama oleh Pokja dan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Dampelas-Tinombo untuk Desa Lembah Mukti, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala melalui kreteria yang telah ditetapkan (Emil Ola Klede, Putro Rh, Suharjito D,2012).
Pada tanggal 12 -13 Oktober 2011, Kelompok Kerja (Pokja IV) REDD+ Sulawesi Tengah, yang membidangi persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan (PADIATAPA) atau Free, Prior. And, Informed, Consent (FPIC) pemberdayaan dan pengembangan kapasitas daerah dan masyarakat difasilitasi oleh UN-REDD, menyusun draft Panduan Pelaksanaan FPIC bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Sulawesi Tengah selaku ketua dari pokja REDD+ dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Dampelas Tinombo.
Sebagai langkah awal, Pokaja IV melakukan sosialisasi Dengan Kepala Desa Bersama pemerintah Desa Tingkat Kecamatan, Sosialisasi diikuti 40 orang yang terdiri atas 22 orang perwakilan pemerintah Desa dan Tokoh-tokoh masyarakat di Kecamatan Damsol, dan 10 orang calon fasilitator dari Desa Talaga dan Desa Lembah Mukti. Sosialisasi ini dilakukan untuk memberi pemahaman dan pengetahuan bagi calon fasilitator dan tokoh-tokoh masyarakat agar lebih mengetahui dan memahami tujuan dan sasaran yang ingin dicapai melalui proyek ini.
Setelah sosialisasi tingkat kecamatan dilaksanakan selanjutnya, sosialisasi dilakukan ditingkat Desa. Kepala Desa Lembah Mukti melakukan sosialisasi bersama dengan stafnya dihadiri tokoh-tokoh masyarakat sebanyak 60 orang di antaranya: tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan, dan tokoh pemuda. Pada tahapan ini dibahas tentang manfaat REDD+ bagi masyarakat Lembah Mukti, maka kesimpulan yang diambil dari pertemuan itu adalah perlunya dilakukan sosialisasi kedua.
Tahapan kedua dirancang oleh Pemerintah Desa bekerja sama dengan fasilitator Desa yang di hadiri oleh tiap-tiap Dusun. Masin-masing Dusun mengutus  sebanyak 10 dari 5 Dusun di Desa Lembah Mukti, dan di hadiri dari beberapa pemateri yaitu: Pokaja IV selaku petugas propensi untuk penetapan  REDD+, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN), dan Kepala Dinas, KPH Kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala, dan perwakilan dari Dinas Kehutanan Propensi Sulawesi Tengah. Selanjutnya pemateri dan fasilitator bekerja sama, dalam hal ini membegi kelompok untuk melakukan sosialisasi di setiap Dusun di Lemba Mukti. Hal ini dimaksudkan untuk mempermudah sosialisasi di tingkat masyarakat agar masyrakat memahami akan Fungsi dan manfaat program REDD+.
Tahap ketiga yaitu pertemuan dalam pengambilan keputusan dalam penerapan uji coba REDD+ di Desa Lembah Mukti dan keputusan ini diserahakan sepenuhnya kepada Masyarakat.

Untuk lebih jelasnya tahapan sosialisasi di Desa lembah Mukti disajikan pada Gambar II.
Dinas Kehutanan
(Ketua Pokja)

Pokja IV
UN-REDD

 


KPH Dampelas Tinombo
 

                                                                 
Kepala Desa
Rekomendasi
Toko Masyarakat
(Tokoh Agama, Tokoh Adat, Tokoh Perempuan dan Tokoh Pemudah)
Uji coba penerapan PADIATAPA
atau FPIC
 












Gambar 3. Bagan Alir Tahapan Sosialisasi                           






5.2.            Motivasi Masyarakat Terhadap Persiapan Penerapan REDD+
Masyarakat Desa Lembah Mukti semakin banyak ikut serta dalam Perencanaan implementasi uji coba REDD+,  kegiatan tersebut  dapat ditunjukan engan menanam pohon Karet dilahan yang sudah terdegradasi. Masyarakat Lembah Mukti berharap implementasi uji coba  program proyek REDD+  tersebut dapat berjalan sesuai dengan harapan yang diharapkan oleh pihak proyek REDD+ dan masyarakat.
Motivasi  masyarakat  dalam  mengembangkan REDD+ sebagian besar berasal dari inisiatif mereka sendiri setelah mengikuti proses sosialisasi REDD+. Untuk lebih jelasnya, motivasi masyarakat Desa Lembah Mukti terhadap persiapan Program REDD+  dapat  dilihat  pada  tabel  7.


Tabel 7. Motivasi Masyarakat Desa Lembah Mukti Terhadap Persiapan Penerapan  Program REDD+
No       Item Penilaian                  Jumlah Responden                   Persentase (%)
1.                  Inisitaif Sendiri                                 30                                           100
2.                  Ajakan Orang Lain                            -                                               -
Jumlah                                              30                                           100


Tabel 7 di atas menunjukkan bahwa dari 30 orang responden (100%)  semua memiliki inisiatif sendiri untuk menerima REDD+ di Desa mereka sebagai lokasi uji coba REDD+. Hal ini termotivasi oleh keinginan mereka untuk memperoleh hasil keuntungan dalam menjalankan proyek REDD+. Adapun harapan masyarakat adalah agar proyek REDD+ benar-benar konsisten ingin membayar hasil tanaman pohon mereka, sesuai dengan harapan yang diberikan oleh masyarakat untuk menambah perekonomian. Oleh karena itu masyarakat Desa Lembah Mukti Sangat optimis bahwa usaha yang sedang mereka kembangkan dapat memberikan hasil yang baik.
Menurut Prijosaksono dan Sembel (2002), motivasi ingin mencapai sesuatu (achievement motivation), seseorng mau melakukan sesuatu karena dia ingin mencapai suatu sasaran atau prestasi tertentu. Motivasi didorong oleh kekuatan dari dalam (inner motivation), yaitu karena didasarkan oleh misi dan tujuan hidupnya. Orang yang memiliki motivasi seperti ini biasanya memiliki visi yang jauh kedepan.
Untuk mencapai tujuan tersebut masyarakat Desa Lembah Mukti melakukan beberapa usaha, antara lain melakukan penanaman pohon sebanyak-banyaknya, melakukan pola penanaman pohon dengan tumpang sari pada hutan hak mereka untuk mendapatkan hasil yang optimal untuk jangka pendek maupun jangka panjang serta melakukan pemeliharaan pada hutan mereka.
Menurut Sadiana (2008), Motivasi Masyarakat dalam mengelola hutan  diukur dari tinggi rendahnya tujuan yang ingin dicapai dari pengelolaan hutan sesuai dengan kebutuhannya.
5.3.            Faktor Dominan Yang Mendorong Masyarakat Desa Lembah Mukti Untuk Mengembangkan REDD+
Saat ini Desa Lembah Mukti, banyak masyarakat yang ikut mengembangkan REDD+. Alasan mereka dalam mengembangkan REDD+  karena beberapa faktor pendorong. hasil wawancara dengan masyarakat Desa Lembah Mukti diketahui bahwa alasan mereka untuk mengmbangkan REDD+ karena motivasi ekonomi, sosial budaya, dan ekologi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 8.


Tabel 8.  Faktor Dominan Yang Mendorong Masyarakat Desa Lembah Mukti Untuk Mengembangkan REDD+.

No           Item Penilaian (Motivasi)                      Jumlah              perentase
                                                                               Responden                (%)                         
1.         Sosial, Ekonomi                                                    16                      53,33
2.         Ekonomi                                                                 4                       13,33                            
3.         Ekonomi, Budaya, Ekologi                                    3                         10
4.         Ekonomi, Sosial, Ekologi                                      3                          10
5.         Ekonomi, Sosial, Budaya, Ekologi                        2                        6,67   
6.         Ekologi                                                                   2                        6,67
        Total                                                                      30                        100


Tabel 8 di atas menunjukkan bahwa faktor dominan yang mendorong masyarakat Desa Lembah Mukti untuk mengembangkan REDD+ pilihan terbanyak responden yaitu (53,33%) dengan pilihan motivasi sosial dan motivasi ekonomi. Motivasi masyarakat dengan aspek sosial mencakup, keterpaduan kehidupan sosial, partisipasi dan pemberdayaan masyarakat, aspek ekonomi mencakup pertumbuhan yang berkelanjutan (masa depan). masyarakat berharap dapat menjadikan proyek REDD+ sebagai tabungan masa depan mereka,  baik dari segi Sosial, Ekonomi, Budaya, dan ekologi.
 Selain itu, untuk menjadikan agar proyek ini bisa sukses, sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dan pihak proyek REDD+ guna untuk mengurangi emisi akibat dari degradasi dan deforestasi hutan maka, masyarakat Desa Lembah Mukti sangat mengharapkan perhatian dalam kekurangan  untuk pengelolaan dan pengembangan REDD+.
Masyarakat dengan pilihan motivasi sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi, berharap, hutan dapat memberikan banyak manfaat bagi mereka yaitu sebagai sumbar pendapatan sampingan, untuk memenuhi permintaan kayu, baik untuk dijual ataupun digunakan dalam pembangunan rumah. Selain itu dengan adanya program proyek REDD+ berbasis pengelolaan hutan yang dikelolah langsung oleh masyarakat memberikan nilai positif oleh masyarakat. Berikut pernyataan hasil wawancara dengan masyarakat Desa Lembah Mukti oleh bapak Fathun, kami sangat bersyukur dengan adanya program REDD+ dilibatkan langsung masyarakat untuk pengelolaan hutan, dengan adanya proyek ini memberikan jalan untuk kami dalam menjaga hutan karena hutan banyak membirikan manfaat.
Banyaknya manfaat yang didapatkan dengan mengembangkan REDD+ maka perlu adanya perhatian dari instansi terkait. Adapun yang dapat dilakukan untuk mengembangkan REDD+ Desa Lembah Mukti yaitu melakukan penyuluhan, sosialisai dan pelatihan kepada petani sehingga dapat lebih menambah wawasan petani mengenai hutan. Materi penyuluhan, sosialisasi dan pelatihan dapat meliputi manfaat hutan, teknik penanaman, pemeliharaan, hal-hal yang menyangkut pengembangan REDD+ manajemen kelompok, kepastian dalam pembagian hasil, serta materi lainnya yang berhubung dengan pengembangan REDD+. Selain itu hal lain yang dapat dilakukan adalah menambah bibt kepada petani REDD+. Dengan adanya perhatian lebih dari instani pengembangan REDD+ di Desa Lembah Mukti dapat lebih baik dan hasil yang diperoleh dari hutan tersebut dapat lebih maksimal.









VI.       KESIMPULAN DAN SARAN

6.1.      Kesimpulan
            Berdasarkan hasil yang diperoleh maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.         Motivasi masyarakat Desa Lembah Mukti terhadap persiapan penerepan REDD+ adalah, motivasi sosial, ekonomi, budaya, dan ekologi.
2.         Faktor dominan yang mendorong masyarakat Desa Lembah Mukti adalah motivasi sosial dan motivasi ekonomi.
6.2.      Saran
            Untuk lebih meningkatkan validitas dari adanya keberlanjutan Proyek REDD+ maka perlu adanya kajian yang lebih mendalam tentang faktor pendukung kegitan pengembangan pengelolaan REDD+ yang dilakukan oleh masyarakat.