KEBUN JATI

Terletak di Desa Talaga Kecamatan Dampelas, dengan Luas 7 ha.

PANTAI BAMBARANO

Pantai berkarang indah ini terletak di Desa Sabang kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala.

JEMBATAN PONULELE

Jembatan Kebanggan warga Palu ini berada diwilayah pantai talise menuju arah donggala.

TANJUNG KARANG

salah satu objek wisata pantai, yang terletak di ujung pantai Donggala, dengan suasana pantai yang terasa nyaman.

situs Tadulako dan Pokekea

situs sejarah ini berada di lembah Besoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah..

Kamis, 27 Desember 2012

Pengaruh Beberapa Teknik Pengendalian Terhadap Intensitas Serangan Hama Tikus Rattus tiomanicus Strain (Rodentia : Muridae) pada Kelapa Sawit

I.         PENDAHULUAN
1.1.       Latar Belakang
Kelapa sawit (Elaeis quineensis Jack.) merupakan salah satu komoditas dalam subsektor perkebunan yang merupakan sumber devisa negara selain minyak bumi.  Kegunaan kelapa sawit selain sebagai bahan baku industri, juga berperan sangat penting dalam kehidupan masyarakat sebagai sumber nabati untuk minyak goreng. Sehingga  memungkinkan prospeknya lebih cerah dibandingkan kopi dan karet olahan (Setyawibawa, 1992). Perkebunan kelapa sawit mendukung sektor non pertanian melalui pengadaan bahan baku industri yang mampu memenuhi pasar dalam negeri maupun pasar dunia (Sutrisno dan Winahyu, 1991).  Komoditas ini cocok dikembangkan baik berupa usaha perkebunan besar maupun skala untuk petani pekebun (Lubis, 1992).
Kelapa sawit pertama kali diperkenalkan di Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1848.  Ada empat batang bibit kelapa sawit yang dibawa dari Mauritius dan Amsterdam dan ditanam di Kebun Raya Bogor.  Tanaman kelapa sawit mulai dikembangkan di perkebunan dan dibudidayakan secara komersial pada tahun 1911.  Perintis pertama usaha perkebunan tanaman kelapa sawit di Indonesia adalah Adrien Hallet asal Belgia, dan diikuti oleh Schadt asal Jerman yang menandai lahirnya perkebunan kelapa sawit di Indonesia.  Minyak kelapa sawit menempati urutan kedua dalam dominasi suplai minyak nabati dunia.  Indonesia merupakan penghasil utama setelah Malaysia (Adlin dan Wahyuni, 1986 dalam Hawalina, 1991).  
Perkembangan kelapa sawit di Indonesia terus meningkat, pada tahun 1978 luas areal 250.116 ha dengan hasil produksi sebesar 596 ton, pada tahun 1983 luas areal 405.646 ha dengan hasil produksi sebesar 1.147 ton, dan pada tahun 1988 luas areal 889.924 ha hasil produksi yang dicapai sebesar 1.690 ton (Dirjen Perkebunan, 1990). Menurut Badan Pusat Statistik Sulawesi Tengah (2003), perkembangan luas areal dan hasil produksi kelapa sawit digolongkan dalam 2 golongan, yaitu Perkebunan Besar (PB), dan Perkebunan Rakyat (PR).  Perkembangan dan produksi kelapa sawit di Sulawesi Tengah mengalami peningkatan dari tahun 1999 untuk Perkebunan Besar (PB) luas areal 23.981 ha dan produksi 57.318 ton sedangkan untuk Perkebunan Rakyat (PR) luas areal 6004 ha dan produksi 76.082 ton. Hingga pada tahun 2003 untuk Perkebunan Besar (PB) luas areal 52.506 ha dan produksi 270.330 ton sedangkan untuk Perkebunan Rakyat (PR) luas areal 6004 ha dan produksi 114.000 ton.
Salah satu faktor penghambat hasil produksi tanaman kelapa sawit adalah masalah hama tikus.  Hama tersebut adalah Rattus tiomanicus Strain, yang dapat menimbulkan kerusakan hingga mencapai 15 % (Pardede, 1998).  Kerusakan terjadi pada pucuk pohon yang masih muda, sedangkan pada buah serangan terjadi pada sabut buah. Dengan beberapa teknik pengendalian mampu mempengaruhi tingkat serangan Rattus tiomanicus Strain. Perlakuan tersebut diantaranya penggunaan Perangkap Tikus Hidup (PTH), Pemanfaatan Burung Hantu (PBH), dan penggunaan Racun Tikus Buatan (RTB).
1.2.       Tujuan dan Kegunaan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya intensitas serangan hama tikus 


Ingin skripsi diatas fersi full nya? klik disini

Efikasi Berbagai Dosis Pasta Biji Jarak Untuk Pengendalian Nematoda Puru Akar Meloidogyne spp. Pada Tanaman Tomat.

I   PENDAHULUAN


1.1   Latar Belakang

Kelezatan cita rasa masakan seolah-olah kurang sempurna tanpa kehadiran tomat, baik berupa buah segar maupun berupa saus.  Demikian juga tomat sebagai minuman, jus tomat, semakin digemari orang.  Bahkan, tanpa diolahpun sebenarnya tomat sudah bisa dinikmati langsung dengan lezat.  Bentuk buahnya yang bulat dengan warna merah merekah serta rasanya yang manis-manis asam merupakan daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh buah lainnya. 
Trisnawati dan Setiawan (2002), menyatakan tanaman tomat (Lycopersicum esculentum) selain mempunyai rasa yang lezat ternyata tomat juga memiliki komposisi yang cukup lengkap dan baik.  Yang cukup menonjol dari komposisi tersebut adalah vitamin A dan vitamin C karena kandungan vitaminnya ini, buah tomat dapat digunakan untuk proses penyembuhan penyakit sariawan gusi dan rabun ayam. Selanjutnya Rukmana (1994), juga menyatakan bahwa tomat adalah tanaman hortikultura yang cukup dikenal oleh masyarakat yang memiliki rasa cukup enak, kandungan gizi yang cukup tinggi dan merupakan kelompok 6 sayuran komersil yang diekspor.
Mengingat peranannya yang begitu penting sebagai sumber gizi dan penghasil devisa, maka produktivitas dan kualitas tanaman tomat selalu ditingkatkan.  Wiryanta (2002), menyatakan hingga sekarang para petani tomat di Indonesia masih kesulitan untuk memenuhi permintaan tomat segar dan olahan.  Bahkan tidak jarang produk-produk olahan seperti sambal dan saus masih dicampur dengan tepung singkong, dan pepaya. 
Rendahnya produktivitas tomat disebabkan oleh berbagai kendala terutama adanya serangan hama dan penyakit, salah satu penyebab kerusakan tanaman tomat adalah nematoda Meloidogyne spp dari Ordo Tylencida.  Badaruddin dan Hutagalung (1989) dalam Umasangaji., dkk (2000), menyatakan bahwa serangan nematoda puru akar pada tanaman tomat menurunkan produksi sampai 45%.
Usaha pengendalian nematoda dapat dilakukan dengan perbaikan bercocok tanam, pengendalian secara fisik, kimia, maupun secara biologi.  Pengendalian secara kimia sering digunakan karena merupakan pengendalian yang praktis dan mudah diterapkan.  Tetapi sebagian besar senyawa kimia yang terkandung dalam nematisida mempunyai fitotoksisitas tinggi, sehingga tanaman akan merana    (Taylor, 1960 dalam Hardjito 1988).  Oleh karena itu penelitian tentang pengendalian nematoda dititik beratkan pada pengurangan ketergantungan terhadap bahan kimia (Taylor, 1979 dalam Wirawati dan Setiawan, 1989).
Tanaman jarak (Ricinus communis L.) merupakan salah satu tanaman yang ada Sulawesi Tengah dan ketersediaannya cukup melimpah dan tumbuh secara liar serta pemamfaatannya belum diusahakan secara maksimal padahal mempunyai prospek yang  cukup baik untuk dapat dikembangkan sebagai pestisida botani untuk pengendalian nematoda puru akar meloidogyne spp pada tanaman tomat. 

Anda ingin skripsi diatas fersi full nya?? klik disini

skripsi Pengaruh Ekstrak Daun Apokat (Persia americana Mill) Terhadap Pertumbuhan Koloni Bakteri Layu Pisang (Ralstonia solanacearum)

I.        PENDAHULUAN
Latar Belakang
Tanaman pisang (Musa Paradisiaca L) merupakan salah satu buah yang digemari oleh penduduk dunia, karena memiliki rasa yang enak, kandungan gizi dan nutrisinya tinggi, mudah didapat dan harganya relatif murah (Suprapto, 1999). Satuhu dan Supriadi (1999) mengemukakan bahwa dengan kemajuan teknologi pertanian, budidaya pisang pun mengalami kemajuan pesat hingga diusahakan secara intensif terutama untuk keperluan ekspor apalagi saat ini pisang sudah masuk jajaran komoditas ekspor non migas yang dapat memberikan sumbangan terhadap pendapatan devisa negara yang cukup tinggi. Oleh karenanya Sahlan dan Nurhadi (1995) menganggap bahwa pisang mempunyai prospek baik dimasa yang akan datang, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun konsumsi ekspor.
Produksi pisang di Sulawesi Tengah pada tahun 2000 mencapai 34.354 ton, namun pada tahun 2001 hanya mencapai produksi sejumlah 33.061 ton, jumlah ini mengalami penurunan 1,293 ton dari produksi tahun 2000 (BPS, 2003).
Dinas Pertanian Tanaman Pangan Sulawesi Tengah (2000) melaporkan bahwa tanaman pisang di Sulawesi Tengah telah terserang penyakit layu bakteri dengan tingkat serangan bervariasi antara ringan, sedang, dan parah; di Kabupaten Donggala luas serangan mencapai 122 Ha yang terdapat pada tiga kecamatan yakni di daerah Kecamatan Sigi Biromaru, Dolo dan Kecamatan Palolo; dari total luas tersebut 33 Ha merupakan daerah dengan serangan yang cukup parah.
Hasil penelitian Sulaksono et al (2002) melaporkan bahwa penyakit layu R. solanacearum pada tanaman pisang mencapai tingkat serangan di atas 70% di kecamatan Sigi Biromaru dan Dolo dan hanya 3% di Kecamatan Palolo. Menurut Kardinan (1999), pengendalian penyakit akibat bakteri patogen dengan menggunakan pestisida sintetik dapat menimbulkan dampak negatif antara lain bertahannya residu bahan kimia dalam tanah yang sulit terdegredasi. Salah satu upaya untuk mengurangi pengaruh pestisida sintetik yaitu dengan memanfaatkan pestisida yang memiliki potensi alami sebagai bahan aktif pestisida.
Sejauh ini penelitian tentang pemanfaatan ekstrak daun apokat masih jarang dilakukan, namun informasi tentang efektifitasnya sudah ada. Dari hasil penelitian diketahui bahwa daun tanaman apokat mempunyai aktivitas anti bakteri dan menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus strain A dan B, Pseudomonas sp., Staphylococcus albus, dan Bacillus subtilis (Ognulans dan Ramstad, 1975). Hal senada juga diungkapkan oleh Widjayakusuma (1995) yaitu bahwa daun apokat mengandung saponin, flavonoid, dan alkaloida yang mempunyai aktivitas anti bakteri dan dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas sp. Karena itu terdapat kemungkinan bahwa daun apokat dapat digunakan sebagai bahan untuk menekan bakteri R. solanacearum.
Berdasarkan hal-hal tersebut di atas maka dipandang untuk melakukan penelitian tentang pengaruh ekstrak daun apokat terhadap bakteri layu pisang R. solanacearum di laboratorium.

Anda ingin skripsi diatas fersi full nya?? klik disini

skripsi : Pengaruh Pemangkasan Terhadap Intensitas Serangan Penggerek Buah Kakao (PBK) Conopomorpha cramerella (Snellen)

I  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Tanaman kakao (Theobroma cacao L.) mempunyai nilai ekonomi yang cukup tinggi, merupakan sumber devisa negara dan tempat tersedianya sumber penghasilan bagi petani kakao terutama daerah-daerah sentra produksi.
            Atmawinata (1993) mengemukakan bahwa luas areal dan produksi kakao di Indonesia terutama pulau Sulawesi memberi andil yang besar dibandingkan pulau-pulau yang lainnya.  Pada tahun 1980 luas pertanaman kakao 37.082 ha dengan produksi sebesar 10.782 ton, dan pada tahun 1990 menjadi 345.003 ha dengan produksi sebesar 113.786 ton, selanjutnya pada tahun 2000 menjadi 588.331 ha dengan produksi sebesar 273.881 ton (Anonim, 2003).  Sulawesi Tengah sebagai salah satu daerah sentra pengembangan kakao di Indonesia bagian timur saat ini juga mengalami kemajuan dengan pesat, sehingga pada akhir tahun 2002 luas areal pertanaman kakao mencapai 127.096 ha dengan produksi sekitar 115.693 ton.  Keadaan ini membuat pemerintah Sulawesi Tengah menaruh perhatian yang cukup besar terhadap perkembangan komoditi kakao yang kemudian dijadikan sebagai komoditi andalan.  Untuk pengembangan tanaman kakao di Sulawesi Tengah menghadapi kendala serangan penggerek buah kakao (PBK).
            PBK Conopomorpha cramerella (Snellen) merupakan hama penting karena dapat menurunkan produksi dan kualitas kakao.  Berdasarkan laporan Dinas Perkebunan Tingkat I Sulteng bahwa di Sulawesi Tengah hingga tahun 2000 luas serangan PBK mencapai 11.000 ha, pada tahun 1991 hanya sekitar 14 ha, jadi dalam waktu sembilan tahun hama PBK telah mampu memperluas daerah serangannya 785 kali dari luas serangan awal dan berdasarkan estimasi dengan luas serangan tersebut maka kerugian petani mencapai 118,3 milyar rupiah pada harga kakao rata-rata Rp. 9.000,00/kg (Anshary, 2001).
            Keberadaan hama PBK di Sulawesi Tengah dilaporkan pertama kali tahun 1991  dengan daerah serangan hanya di Kecamatan Dondo Kabupaten Buol Tolitoli, dengan luas serangan 42,7 ha (Sulistyowati dan Prawoto, 1993).  Namun sekarang keberadaannya telah menyebar pada Kabupaten-kabupaten lainnya di Sulawesi Tengah.  Intensitas serangan di Kabupaten Donggala khususnya di Kecamatan Sirenja relatif tinggi yaitu 50-60 % (Anshary, 1997).
            Upaya pengendalian hama PBK saat ini telah dilakukan petani dengan  menggunakan berbagai teknik, antara lain pestisida, panen sering, penyelubungan buah, sanitasi serta pemangkasan. Informasi tentang teknik pemangkasan serta hasilnya untuk mengendalikan PBK belum banyak dilaporkan orang.  Tujuan utama pemangkasan adalah merangsang tanaman untuk membentuk organ baru yang lebih potensial sebagai cabang produktif.  Bila tanaman tidak dipangkas maka cabang-cabang vegetatif akan relatif lebih aktif, disamping itu umur produktivitasnya akan lebih panjang dibandingkan bila tidak dipangkas.  Pemangkasan  diduga berpengaruh pada  perubahan prilaku serangan PBK. Berdasarkan hal tersebut perlu kiranya diteliti pengaruh pemangkasan terhadap intensitas serangan hama PBK dan produksi.

Anda ingin skripsi diatas fersi full nya?? klik disini

skripsi Pengaruh Perlakuan Kaloin Untuk Pengendalian Penggerek Buah Kakao Conopomorpha cramerella (Snellen)

I.  PENDAHULUAN

1.1.    Latar Belakang
Tanaman kakao (Theobroma cacao L) adalah salah satu komoditi tanaman perkebunan yang merupakan sumber divisa negara selain minyak bumi. Di negara Indonesia tanaman kakao cukup strategis untuk dikembangkan karena selain memiliki potensi ekonomi yang cukup tinggi, juga memiliki potensi lahan yang cukup luas (Sutrisno dan Winarya, 1997 dalam Ramlan, 2003).
Perkembangan kakao di Indonesia mengalami kemajuan dengan pesat, mulai dibudidayakan secara luas sejak tahun 1970 melalui swadaya masyarakat, perkebunan besar baik dikelola oleh pemerintah maupun swasta. Pada tahun 1980 luas pertanahan kakao 37.082 ha dengan produksi sebesar 10.282 ton, dan selanjutnya tahun 1990 menjadi 345.003 ha dengan produksi sebesar 113.786 ton, selanjutnya pada tahun 2000 menjadi 588.311 ha dengan produksi sebesar 273.881 ton (Anonim, 2003). 
Sebagai komoditi ekspor tanaman kakao dari tahun ketahun mengalami peningkatan baik dari segi luas area maupun produksinya, tahun 2004 luas tanaman kakao naik sebesar 22,09 persen yakni dari 137.888 ha meningkat menjadi 168.350 ha, tahun 2004 dengan peningkatan produksi sebesar 11,60 persen yaitu dari 114.984 ton tahun 2003 menjadi 128.324 ton tahun 2004 (Badan Pusat Statistik, 2004). Sulawesi Tengah turut pula memberi andil dalam produksi kakao di Indonesia, dari tahun ke tahun luas areal pertanaman kakao di Sulawesi Tengah mengalami Pertambahan Keadaan ini membuat Pemerintah Sulawesi Tengah menaruh perhatian yang cukup besar terhadap pengembangan komoditi kakao yang mempunyai peranan strategis, karena disamping merupakan sumber penghasilan devisa negara, juga termasuk sumber pendapatan masyarakat terutama petani yang kemudian di jadikan komoditi andalan (Anonim, 2003).
Luas pertanaman kakao di Sulawesi Tengah adalah sekitar 250.000 ha dengan produksi sekitar 147.155 ton. Areal perkebunan kakao di Sulawesi Tengah terbesar pada tujuh Kabupaten dan umumnya merupakan perkebunan rakyat yang dikelola secara intensif. Dari Kabupaten tersebut, Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong yaitu masing-masing 27.775 ha dan 30.850 ha dan sisanya masing-masing Kabupaten Poso 10.659 ha, Luwuk Banggai dan Baggai Kepulauan 9.464 ha, Kabupaten Morowali 8.455 ha dan sisanya adalah Kabupaten Toli-Toli dan Kabupaten Buol sekitar 10.000 ha dan 4.000 ha  (Badan Pusat Statistik, 2005).
Ekspor kakao menempati urutan pertama dari urutan ekspor Sulawesi Tengah. Ekspor kakao pada tahun 2003 sebanyak 80.000 ton dengan nilai kira-kira USD 960.000.000 meningkat pada tahun 2004 mencapai jumlah yang menggembirakan yaitu lebih dari 128.000 ton dengan nilai ekspor sekitar USD 1.536.000.000. Selain pasar ekspor, biji kakao Sulawesi Tengah juga sudah mulai terbuka peluang pasar dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan industri pengolahan biji kakao dalam negeri (Muslimin, 2005 : 71-72). 

Anda ingin skripsi diatas fersi full nya?? klik disini